
SUMBAWA, Nuansantb.id– Festival Budaya Paroso Kecamatan Moyo Hilir Tahun 2026 resmi ditutup oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, pada Ahad malam (09/08/2026) di Panggung Seni Budaya Desa Moyo. Penutupan festival yang berlangsung selama lima hari ini menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang telah berjalan sejak Rabu (05/08/2026) lalu.
“Terus terang, saya merasa bahagia dapat hadir bersama masyarakat Moyo Hilir pada malam hari ini. Setelah beberapa hari kita menyaksikan berbagai kegiatan budaya, malam ini kita sampai pada penghujung rangkaian Festival Budaya Paroso,” ujar Bupati yang akrab disapa Haji Jarot itu di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi.
“Namun bagi saya, yang kita tutup malam ini hanyalah rangkaian acaranya, bukan semangat budayanya,” tegasnya.
Festival yang mengusung tema “Merawat Warisan, Menggerakkan Peradaban” ini sebelumnya dibuka oleh Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori. Selama lima hari penyelenggaraan, tercatat 182 peserta mengikuti permainan tradisional Kolo dan Rabanga, sekitar 1.440 orang memeriahkan Pawai Budaya, serta 185 peserta tampil dan berkompetisi dalam Basakeco, Ngumang, Bakelung, Rabalas Lawas, dan Ratib Rabana Ode.
“Ini bukan angka semata. Di balik angka itu ada anak-anak muda yang mau belajar budaya, ada orang tua yang mau mewariskan pengetahuan, dan ada masyarakat yang masih bangga dengan identitasnya sebagai Tau Samawa,” kata Bupati Jarot.
Bupati menegaskan bahwa budaya bukan sekadar pakaian adat, tarian, atau pertunjukan di atas panggung. “Budaya adalah cara kita mengenal siapa diri kita. Dalam sakeco ada kecerdasan dan pesan kehidupan. Dalam ngumang ada keberanian dan semangat. Dalam lawas ada nasihat dan kearifan,” paparnya.
Pesan Khusus untuk Generasi Muda
Kepada anak-anak muda Moyo Hilir, Bupati Jarot berpesan agar tidak malu menjadi Tau Samawa. “Kita boleh menguasai teknologi. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman. Kita boleh menjadi generasi yang modern. Tetapi jangan sampai kita menjadi generasi yang maju teknologinya, tetapi lupa budayanya,” tegasnya.
“Bawa budaya kita ke TikTok. Bawa ke YouTube. Bawa ke Instagram. Bawa ke panggung-panggung nasional. Bukan untuk mengubah jati diri kita, tetapi justru untuk menunjukkan kepada dunia: ‘Inilah Tau Samawa. Inilah budaya kami’,” beber Bupati Jarot.
Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta lomba. Kepada para juara, ia berpesan agar kemenangan menjadi motivasi untuk terus mengasah kemampuan dan membawa nama Moyo Hilir ke panggung yang lebih luas. Sementara kepada yang belum berhasil, ia mengingatkan bahwa dalam festival budaya, kemenangan bukan hanya tentang piala.
“Keberanian untuk tampil, kemauan untuk belajar, dan kesediaan ikut menjaga budaya kita, itu sendiri sudah merupakan kemenangan,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Bupati menyampaikan terima kasih kepada Camat Moyo Hilir, panitia, para kepala desa, seniman, budayawan, pemuda, dan seluruh masyarakat yang bergotong royong menyukseskan festival. Apresiasi juga disampaikan kepada PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Bank NTB Syariah Cabang Sumbawa, PD BPR LKP Moyo, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.
“Mari kita jadikan festival ini bukan hanya sebagai ruang untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk menggerakkan kreativitas, pariwisata dan ekonomi masyarakat,” ajaknya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati Jarot menutup festival dengan pantun:
Ke pasar Moyo beli ikan nila
Ikan dibawa naik pedati
Yang juara sudah dapat piala
Yang belum juara, jangan patah hati!
“Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin, Festival Budaya Paroso Tahun 2026 pada malam hari ini secara resmi saya nyatakan ditutup,” pungkasnya.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar