
Sumbawa, Nuansantb.id — Evaluasi hasil pelatihan produk tenun dan desain motif Tenun Kre Alang yang digelar di Kabupaten Sumbawa, Kamis (19/08/2026) menjadi momen penting tidak hanya untuk menilai capaian para peserta, tetapi juga merumuskan arah pengembangan tenun khas Sumbawa di tengah tuntutan zaman.
Hadir sebagai evaluator utama, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Jarot, SE, dengan tegas menyampaikan visi besarnya. Baginya, tenun Sumbawa adalah warisan budaya yang harus dijaga, namun tidak boleh berhenti sebagai produk masa lalu. Justru di situlah tantangan terbesar: bagaimana mempertahankan identitas, sekaligus berinovasi.

“Yang sudah ada harus tetap kita pertahankan sebagai identitas dan kekayaan budaya. Namun, kita juga harus terus mengembangkan apa yang sudah ada, termasuk menciptakan motif-motif baru dan mengembangkan produk tenun agar semakin bernilai,” ujar Hj. Ida di hadapan para perajin dan pemangku kepentingan yang hadir.
Motif Baru, Filosofi Tetap
Pernyataan Ketua Dekranasda itu menggarisbawahi bahwa pengembangan tenun tidak boleh sekadar mengejar pasar, tetapi harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Hal ini diperkuat oleh pemaparan narasumber, H. Hasanuddin—yang akrab disapa H. Ace. Ia menyoroti bahwa setiap motif tenun Sumbawa memiliki makna dan simbol yang erat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pemahaman terhadap filosofi menjadi fondasi penting dalam menciptakan motif baru. “Inovasi yang dilakukan tidak boleh menghilangkan karakter dan identitas tenun Sumbawa. Motif baru tetap harus mencerminkan nilai-nilai budaya yang kita miliki,” jelasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Pengembangan tenun tidak bisa berjalan sendiri. Kegiatan evaluasi ini juga menghadirkan Koko Hermanto dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) selaku Ketua Tim Pelaksana Dana Indonesiana. Kehadiran perguruan tinggi diharapkan membawa perspektif segar dalam desain dan inovasi produk yang kreatif, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Tak ketinggalan, Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMindag) Kabupaten Sumbawa yang diwakili Sri Handayani, SE turut memberikan pandangan dari sisi pembinaan usaha dan peluang pemasaran.
Hj. Ida juga mengakui bahwa masih banyak kendala yang dihadapi para perajin—mulai dari pengembangan desain, kapasitas produksi, hingga pemasaran. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, Dekranasda, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan perajin menjadi keniscayaan.
“Hasil pelatihan ini harus diterapkan secara berkelanjutan. Evaluasi ini bukan sekadar penilaian, tapi momentum untuk memetakan kebutuhan dan kendala yang masih kita hadapi bersama,” tegasnya.
Menuju Tenun Sumbawa yang Mendunia
Kegiatan evaluasi ini menegaskan komitmen Dekranasda Kabupaten Sumbawa untuk menjaga tenun sebagai warisan budaya sekaligus mendorongnya menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah. Harapannya, Tenun Kre Alang tidak hanya dikenal sebagai simbol budaya, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dengan kolaborasi yang terus dijalin, inovasi yang tetap berpijak pada tradisi, serta penguatan kapasitas perajin, tenun Sumbawa diyakini mampu melangkah lebih jauh—menjadi kebanggaan daerah sekaligus kebanggaan nasional.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar