“Kita Datang dan Mencuri Negara Mereka”: Pengakuan Kontroversial David Ben-Gurion di Tengah Badai Serangan Iran ke Israel

4 menit membaca
Sahril

Nuansantb.id, 27 Maret 2026 – Di tengah eskalasi konflik yang memanas pasca serangan bertubi-tubi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terhadap sejumlah infrastruktur vital Israel, percakapan lama tentang “hak atas tanah” kembali mengemuka.

Sorotan kali ini tertuju pada pernyataan historis namun jarang dibahas dari David Ben-Gurion, pendiri sekaligus perdana menteri pertama Israel, yang secara blak-blakan mengakui bahwa negaranya telah “mencuri” tanah Palestina.

Serangan Iran Lumpuhkan Infrastruktur Strategis

Pekan ini, ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru. Iran disebut-sebut menerapkan strategi “pretheli dhisik, liyane pikir karo mlaku” (sederet serangan awal diikuti dengan langkah-langkah berikutnya). Serangan demi serangan dilancarkan oleh IRGC terhadap berbagai titik vital di wilayah Israel.

Berdasarkan data dari sumber kredibel seperti Institute for the Study of War (ISW), Alma Research Center, dan laporan resmi militer, sejumlah target telah mengalami kehancuran atau kerusakan parah. Di antaranya adalah kawasan industri di kota Holon, Bat Yam, dan Or Yehuda; Pangkalan Udara Strategis Palmachim & Ovda yang menjadi home base skuadron jet tempur dan sistem pertahanan rudal; hingga pembangkit listrik Hadera dan fasilitas nuklir Dimona.

Pukulan telak terbaru terjadi setelah Bandara Internasional Ben Gurion—gerbang udara utama Israel—menjadi sasaran, menyebabkan lumpuhnya penerbangan untuk sementara waktu.

Nama di Balik Bandara dan Sejarah Kontroversial

Bandara yang kini porak-poranda itu diambil dari nama David Ben-Gurion, figur sentral dalam berdirinya Israel. Lahir di Płońsk, Polandia (kala itu bagian dari Kekaisaran Rusia), Ben-Gurion tumbuh dalam lingkungan gerakan Zionisme. Ayahnya, seorang pengacara, aktif dalam gerakan Lovers of Zion.

Pada usia 17 tahun, ia hijrah ke Warsawa dan bergabung dengan kelompok sosialis Zionis, Poale Zion. Keyakinannya sederhana namun radikal: orang Yahudi tidak akan pernah aman di Eropa dan harus kembali ke tanah leluhur di Palestina. Sepanjang kariernya, ia menjadi arsitek utama pembentukan negara Israel pada 1948, menyatukan milisi Yahudi menjadi Israel Defense Forces (IDF), serta membawa ratusan ribu imigran Yahudi dari Eropa dan negara-negara Arab ke tanah yang baru diproklamasikan itu.

Namun, di balik statusnya sebagai “Bapak Pendiri,” Ben-Gurion juga menyisakan catatan kelam. Dalam peristiwa Nakba 1948, ia disebut memberikan perintah (melalui Yitzhak Rabin saat itu) untuk mengusir penduduk Arab guna mengamankan jalur strategis menuju Yerusalem. Kebijakannya terhadap imigran Yahudi Mizrahi (dari negara Arab) juga dinilai diskriminatif, di mana mereka ditempatkan di kamp-kamp transit kumuh (Ma’abarot) sementara Yahudi Ashkenazi (Eropa) mendapat prioritas perumahan di pusat kota.

Pengakuan Jujur di Balik Tembok Rumah

Puncak kontroversi ini terungkap dalam buku The Jewish Paradox (1978) karya Nahum Goldmann, Presiden World Jewish Congress yang juga merupakan teman dekat sekaligus kritikus Ben-Gurion. Dalam percakapan pribadi yang terjadi di kediaman Ben-Gurion, sang pendiri Israel menyampaikan pengakuan yang jarang diungkap ke publik:

“Jika saya menjadi pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani perjanjian dengan Israel. Itu wajar saja: kita telah mengambil negara mereka. Memang benar Tuhan menjanjikannya kepada kita, tetapi apa hubungannya dengan mereka? Tuhan kita bukan tuhan mereka. Kita berasal dari Israel, itu benar, tetapi itu dua ribu tahun yang lalu, dan apa hubungannya dengan mereka? Ada anti-Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tetapi apakah itu kesalahan mereka? Mereka hanya melihat satu hal: kita datang dan mencuri negara mereka. Mengapa mereka mau menerima [kesepakatan] itu?”

Pertanyaan Besar bagi Dunia Arab

Pengakuan yang termuat di halaman 99 (pada beberapa edisi) tersebut kini menjadi sorotan tajam di tengah perang terbuka antara Iran dan Israel. Bagi para pengamat politik, pernyataan “Bapak Negara Israel” itu memunculkan pertanyaan fundamental: Jika pendiri Israel sendiri telah mengakui bahwa tanah itu diambil dari pemiliknya, mengapa sejumlah kerajaan Muslim Sunni di kawasan Arab justru menjalin kesepakatan normalisasi dan membela Israel?

Hingga berita ini diturunkan, eskalasi militer antara Iran dan Israel terus berlanjut. Bandara Ben Gurion, yang namanya diambil dari sosok yang mengakui “pencurian” tersebut, kini menjadi salah satu saksi bisu dari siklus kekerasan yang tak kunjung usai di Timur Tengah. (SI)

(Sumber: BBC, Al Jazeera, The Guardian, serta dokumen sejarah yang dihimpun Nuansantb.id)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez