
Sumbawa, Nuansantb.id – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., secara resmi membuka Pertemuan Tim Penggerak Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kabupaten Sumbawa di La Grande Ballroom Hotel, Kamis (20/08/2026). Kegiatan yang turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para kepala OPD, Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, serta sejumlah undangan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen daerah terhadap penanganan kesehatan jiwa secara holistik.
Dalam sambutannya, Bupati Syarafuddin Jarot menegaskan bahwa kesehatan adalah aset paling berharga bagi manusia, sehingga upaya pemeliharaannya—termasuk kesehatan jiwa—menjadi fondasi utama peningkatan kualitas hidup masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada TPKJM yang dinilainya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan dan pendampingan kepada warga dengan gangguan kesehatan jiwa (ODGJ).
“Gangguan kesehatan jiwa bukanlah kondisi yang tidak dapat ditangani. Dengan penanganan yang tepat dan berkelanjutan, mereka memiliki peluang besar untuk sembuh dan kembali produktif,” tegas Bupati. Ia juga menyoroti eratnya kaitan antara kesehatan jiwa dan fisik. “Saat seseorang stres dan mengabaikan asupan gizi, imun tubuh menurun dan memicu berbagai komplikasi. Karena itu, pendekatan terpadu sangat krusial,” jelasnya.
Bupati pun menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan rumah singgah bagi ODGJ di Kabupaten Sumbawa. Menurutnya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Pandangan tersebut selaras dengan paparan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Syarif Hidayat, SKM., MPH. Ia memaparkan data yang menunjukkan bahwa kondisi kesehatan fisik dan psikis saling mempengaruhi secara timbal balik, termasuk dalam proses penyembuhan penyakit fisik.
Data Dinas Kesehatan mengungkapkan situasi yang memprihatinkan: tercatat 1.069 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat yang tersebar di 24 kecamatan. Selain itu, terdapat 1.425 orang mengalami gangguan jiwa ringan hingga sedang, seperti depresi. Angka ini menempatkan Kabupaten Sumbawa sebagai daerah dengan jumlah ODGJ berat tertinggi kedua di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Yang lebih mengkhawatirkan, kasus bunuh diri di Sumbawa tercatat sembilan kasus sepanjang 2023–2025, dan sudah dua kasus terjadi pada 2026. Praktik pemasungan (pasung) terhadap ODGJ juga masih menjadi tantangan serius. Saat ini terdapat 12 kasus pasung—salah satu angka tertinggi di NTB—padahal sejak 2013 telah dicanangkan program Sumbawa Bebas Pasung.
Kepala Dinas Kesehatan menjelaskan, masih banyak keluarga yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib, sehingga memilih memasung而非 merawat anggota keluarganya. Di sisi lain, ada pula keluarga yang telah berupaya merawat dan rutin mengobati pasien.
Untuk menjawab tantangan tersebut, TPKJM diharapkan memperkuat koordinasi penanganan kesehatan jiwa. Pada 2025, Pemkab Sumbawa telah melakukan sosialisasi TPKJM, skrining kesehatan jiwa, penyuluhan masyarakat, serta pelatihan tenaga kesehatan dan medis. Upaya ini diperkuat dengan kunjungan langsung ke keluarga yang masih mempraktikkan pasung.
Namun, kendala tetap ada. Kabupaten Sumbawa baru memiliki dua dokter spesialis jiwa. Tak jarang, pasien yang telah selesai dirawat di rumah sakit justru ditolak keluarganya sehingga kesulitan kembali ke lingkungan sosial. Karena itu, keberadaan rumah singgah dinilai sangat mendesak.
“Rumah singgah ini diharapkan menjadi tempat perawatan sementara yang aman—termasuk bagi pasien yang sebelumnya dipasung—sehingga proses pemulihan dapat berlangsung lebih optimal,” ujar H. Syarif Hidayat. Pemerintah Kabupaten menargetkan fasilitas ini dapat mulai beroperasi pada tahun 2027.
Dukungan terhadap rumah singgah ini telah mendapat restu dari Bupati Syarafuddin Jarot. Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Riset Daerah (Bapperida) juga menyatakan komitmennya untuk mendukung realisasi fasilitas tersebut. Dengan sinergi seluruh pihak, diharapkan sistem penanganan kesehatan jiwa yang terpadu dan manusiawi dapat segera terwujud demi masa depan Sumbawa yang lebih sehat dan bebas pasung.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar