Pemkab Sumbawa Matangkan Program HAT, Lokasi Kerekeh Belum Final Masih Dikaji

3 menit membaca
Sahril
Pemerintahan - 17 Okt 2026

Sumbawa, Nuansantb.id — Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus mematangkan persiapan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) melalui kajian kelayakan lokasi dan pengumpulan data teknis sebagai dasar perencanaan pembangunan.

Salah satu lokasi yang dikaji adalah Desa Kerekeh, Kecamatan Unter Iwes. Namun, kepastian lokasi pembangunan belum ditetapkan karena masih menunggu hasil kajian dan pemenuhan persyaratan. Proses itu menjadi bagian dari upaya menyiapkan kawasan industri ayam terintegrasi yang berbasis potensi lokal.

Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya, ST., MT., mengatakan kajian dilakukan agar rencana pembangunan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat secara teknis, legal, dan lingkungan. “Desa Kerekeh masih menjadi salah satu lokasi yang dikaji. Belum ada keputusan final. Semua akan bergantung pada hasil kajian kelayakan serta pemenuhan persyaratan yang berlaku,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).

Pada 11–13 Oktober 2026, tim konsultan IPB Consulting melakukan survei lapangan. Mereka menghimpun data kondisi lahan, peternakan, ketersediaan bahan baku pakan, aksesibilitas, tata ruang, serta aspek lingkungan. Data itu menjadi bahan utama dalam menilai kelayakan lokasi sebelum pemerintah mengambil keputusan.

Menurut Lalu Suharmaji, survei lapangan penting karena program HAT membutuhkan dukungan ekosistem yang utuh. Tidak hanya lahan, tetapi juga pasokan jagung lokal sebagai bahan baku pakan, akses transportasi, kesesuaian tata ruang, dan daya dukung lingkungan. “Kami ingin memastikan setiap tahapan berjalan dengan data yang lengkap. Jangan sampai pembangunan dilakukan tanpa dasar kajian yang kuat,” katanya.

Persiapan ini merupakan tindak lanjut koordinasi Pemerintah Kabupaten Sumbawa dengan PT Berdikari terkait rencana pemanfaatan lahan daerah untuk mendukung pengembangan industri ayam terintegrasi. Pemerintah daerah menegaskan bahwa kerja sama tersebut akan dijalankan dengan memperhatikan kepentingan daerah, masyarakat, dan keberlanjutan. Koordinasi mencakup skema pemanfaatan lahan, dukungan infrastruktur, dan rencana kemitraan dengan peternak.

Program HAT diharapkan mampu memperkuat sektor peternakan, meningkatkan nilai tambah jagung lokal, membuka peluang usaha dan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan rantai nilai terintegrasi, jagung yang selama ini banyak dijual dalam bentuk bahan mentah dapat diolah menjadi pakan, sehingga nilai ekonomisnya meningkat. Selain itu, program ini diharapkan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Lalu Suharmaji menambahkan, hilirisasi ayam terintegrasi bukan sekadar pembangunan kandang atau industri. Program ini perlu dilihat sebagai upaya membangun ekosistem dari hulu ke hilir: petani jagung, produsen pakan, peternak, pengolahan, hingga pemasaran. “Harapannya, manfaatnya tidak hanya dirasakan investor, tetapi juga petani, peternak kecil, dan masyarakat sekitar. Karena itu, keterlibatan warga dan transparansi proses menjadi bagian penting,” jelasnya. Menurutnya, keberhasilan HAT perlu ditopang kelembagaan petani dan peternak yang kuat.

Pemkab Sumbawa akan terus mengawal proses persiapan bersama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, PT Berdikari, dan pemangku kepentingan terkait. Pemerintah daerah memastikan aspek legalitas lahan, kelayakan teknis, dan perlindungan lingkungan terpenuhi sebelum pembangunan dilaksanakan. Sosialisasi kepada masyarakat juga akan dilakukan agar publik memperoleh informasi yang jelas. Dokumen lingkungan dan tata ruang menjadi syarat yang tidak bisa dilewati.

“Kami akan mengawal tahapan ini secara hati-hati. Legalitas lahan, kelayakan teknis, dan perlindungan lingkungan harus tuntas lebih dahulu. Setelah itu baru kita bicara tahapan berikutnya. Prinsipnya, pembangunan harus memberi manfaat dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” pungkas Lalu Suharmaji.

Dengan pendekatan kajian yang matang, Pemkab Sumbawa berharap Program HAT dapat menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Sumbawa dalam industri peternakan dan pakan berbasis potensi lokal. Namun, hingga kini, publik diminta menunggu hasil kajian resmi sebelum menyimpulkan lokasi final pembangunan. Pemkab juga membuka ruang dialog agar aspirasi warga terakomodasi. (Ch)

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez