Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Jarot-Ansori, Sumbawa Hadapi Badai Fiskal 2026

3 menit membaca
Sahril

Sumbawa, Nuansantb.id – Pemerintah Kabupaten Sumbawa melakukan refleksi jujur dan berbasis data jelang satu tahun kepemimpinan Bupati Ir. H. Syarafuddin Jarot dan Wakil Bupati Drs. H. Mohamad Ansori (Jarot-Ansori).

Refleksi yang digelar dalam Seminar Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Samawa (UNSA), Sabtu (20/12/2025), justru mengungkap tantangan besar yang mengintai: ancaman “badai fiskal” pada 2026.

Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa momentum satu tahun ini bukan sekadar perayaan. “Ini adalah momentum untuk menilai secara jujur apa yang telah dilakukan, apa yang masih menjadi kekurangan, dan apa yang harus dipercepat,” ujarnya. Ia memaparkan sejumlah capaian di bidang SDM, infrastruktur strategis, dan komitmen pada Sumbawa Hijau Lestari. Namun, ia menekankan bahwa pembangunan memerlukan kolaborasi. “Kritik, masukan, dan pengawasan publik justru menjadi energi untuk memastikan arah pembangunan Sumbawa tetap berada di jalur yang benar,” tegas Jarot.

Kewaspadaan: Ancaman Penurunan DBH hingga 87,68%

Refleksi hangat justru memanas ketika Kepala BAPPEDA, Dr. Dedy Heriwibowo, memaparkan proyeksi finansial yang mengkhawatirkan. Ia mengungkap potensi penurunan drastis Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat pada 2026 yang bisa mencapai 87,68%. Data ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk segera bertindak.

Menanggapi ancaman ini, eksekutif dan legislatif menunjukkan kesatuan langkah langka. Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, S.AP., M.M.Inov, yang sebelumnya mengapresiasi stabilitas ekonomi dan pemerataan (Gini Rasio 0,379), langsung beralih ke mode siaga. “DPRD adalah mitra sejajar. Rakyat tidak butuh perdebatan ego sektoral; mereka butuh respons cepat,” serunya, menyoroti isu konflik lahan dan infrastruktur terpencil.

Dua Langkah Darurat & Empat Pilar Jangka Panjang

Dari dialog intensif tersebut, lahir dua kesepakatan strategis untuk menghadapi badai fiskal:

Pertama, Optimalisasi PAD secara Berani: DPRD mendorong pemerintah mengeksplorasi potensi pajak baru, seperti pada komoditas unggulan udang dan rumput laut, yang berpotensi menyumbang Rp462 miliar.

Kedua, Penajaman Prioritas Anggaran: Anggaran akan dialihkan dari belanja penunjang ke belanja pokok yang langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Lebih dari itu, seminar yang melibatkan akademisi UNSA ini berhasil merumuskan empat pilar rekomendasi strategis untuk arah pembangunan ke depan:

Pertama, Optimalisasi Fiskal untuk kemandirian anggaran. Kedua, Hilirisasi Ekonomi, khususnya mengolah potensi laut Teluk Saleh. Ketiga, Digitalisasi Layanan birokrasi. Keempat, Investasi SDM & Lingkungan lewat “Sumbawa Hijau Lestari”.

Tahun Kedua: Ujian Nyata Kolaborasi

Menutup seminar, Nanang Nasiruddin mengajak semua pihak meninggalkan ego. “Mari buang ego sektoral. Tahun kedua adalah momentum untuk membuktikan bahwa kolaborasi kita benar-benar membawa kesejahteraan nyata bagi rakyat Sumbawa,” pungkasnya tegas.

Seminar yang dihadiri ratusan akademisi, kepala desa, organisasi masyarakat, dan mahasiswa ini berhasil mengubah ruang refleksi menjadi ruang perencanaan darurat. Pesannya jelas: kepemimpinan Jarot-Ansori tahun kedua akan diuji oleh ketangguhan fiskal dan kedewasaan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan berat.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez