Sumbawa Bertransformasi: Digitalisasi Destana Jadi Lompatan Besar Hadapi Risiko Bencana

2 menit membaca
Sahril

SUMBAWA, Nuansantb.id – Kabupaten Sumbawa tak lagi sekadar siap menghadapi bencana. Daerah ini kini memimpin perubahan menuju masa depan yang tangguh melalui digitalisasi Desa Tangguh Bencana (Destana).

Sebagai wujud komitmen nyata, Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) bersama KONSEPSI dan Program SIAP SIAGA NTB menggelar Bimbingan Teknis Tim Fasilitator Penilaian Destana di Hotel Grand Samota, Kamis (09/04/2026).

Kegiatan ini bertujuan mempercepat pembangunan desa tangguh bencana yang terukur, sistematis, dan berbasis data.

33 Peserta Lintas Sektor Dilibatkan

Sebanyak 33 peserta dari berbagai instansi hadir, mulai dari BPBD, Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga fasilitator teknis dan administrator sistem kebencanaan. Hadir pula fasilitator tingkat provinsi yang kompeten dalam penilaian Destana dan pengelolaan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK).

Para peserta dibekali pemahaman tentang Instrumen Penilaian Ketangguhan Desa (PKD), mekanisme verifikasi, serta praktik langsung penggunaan aplikasi SIK/Siaga NTB sebagai platform digital untuk input dan integrasi data kebencanaan.

Akselerasi Diperlukan: Baru 434 Desa Tangguh dari 1.121 Desa di NTB

Langkah ini krusial mengingat capaian Desa Tangguh Bencana di Provinsi NTB baru mencapai 434 desa dari total 1.121 desa. Artinya, masih dibutuhkan akselerasi dan kolaborasi lintas sektor agar seluruh desa memiliki kapasitas mandiri dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko bencana.

Kegiatan ini juga menandai penguatan peran Tim Fasilitator Penilaian Destana Kabupaten Sumbawa yang telah resmi dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati Sumbawa. Tim diharapkan menjadi garda terdepan dalam memastikan proses penilaian berjalan partisipatif, akuntabel, dan menghasilkan data valid sebagai dasar kebijakan.

“Pendekatan Konvensional Tak Lagi Cukup”

Salah satu peserta, Amir Ali, menegaskan bahwa transform menuju desa tangguh tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional.

“Pendekatan berbasis data dan sistem digital seperti SIK adalah kunci untuk memastikan intervensi kebencanaan tepat sasaran, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Hasil penilaian Destana ke depan akan menjadi fondasi penting dalam merumuskan strategi pembangunan desa yang adaptif terhadap perubahan iklim dan risiko bencana. Sumbawa membuktikan, ketangguhan dimulai dari data, kolaborasi, dan teknologi.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez