Tragedi Tambang Lantung, Wabup Ansori Lakukan Evaluasi Total dan Kunjungi Rumah Duka

3 menit membaca
Sahril
Pemerintahan - 06 Sep 2026

SUMBAWA, Nuansantb.id — Malam itu, Sabtu (05/09/2026), langit Kecamatan Lantung tampak gelap. Namun di kawasan tambang emas rakyat Lawang Tua, aktivitas masih berlangsung seperti biasa. Ratusan penambang bergelut dengan tanah dan bebatuan, berharap emas dari perut bumi Sumbawa bisa menghidupi keluarga.

Sekitar pukul 21.30 Wita, tanpa peringatan, dinding galian setinggi puluhan meter ambruk seketika.Longsoran material tanah dan batu besar menimpa para pekerja yang berada di bawah.Terjadi kepanikan.”Kejadiannya sangat cepat. Kami sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba tanah dari atas runtuh menimpa rekan-rekan yang berada di bawah,” ujar seorang penambang bernama Adi dengan suara bergetar.

Tiga nyawa melayang. Syaifullah, Imansyah, dan Syarafuddin—dua di antaranya meninggal di lokasi, satu lagi dalam perjalanan menuju Puskesmas.Dua orang selamat lainnya, Suryana, Novan Widianto, Muslimin, Samsul, Jihan Ramdhani, dan Farel—remaja 17 tahun yang selamat meski kakinya tertimbun tanah dan pelipisnya terkena batu—kini masih menjalani perawatan medis akibat luka berat dan patah tulang.

“Sepupu saya tertimbun batu bersama ipar saya dan nyawa mereka tidak bisa tertolong,” kata Farel sambil menangis.

Evakuasi berlangsung dramatis. BPBD Kabupaten Sumbawa menerima laporan sekitar pukul 21.00 Wita dan langsung bergerak.Lima unit ambulans dikerahkan.Hingga pukul 02.00 Wita dini hari, seluruh korban berhasil dievakuasi.Kapolres setempat pun telah memasang garis polisi dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara.

Wabup Ansori: Keselamatan Harus Jadi Perhatian Utama

Menyikapi musibah ini, Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, langsung menggelar rapat darurat bersama sejumlah kepala OPD, lalu terjun langsung mendampingi keluarga korban.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa, kami menyampaikan belasungkawa dan duka yang mendalam kepada keluarga korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujar Ansori dengan nada penuh keprihatinan.

Namun duka bukan akhir. Ansori menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa akan segera melakukan evaluasi total terhadap aktivitas tambang rakyat, khususnya di kawasan Lawang Tua yang selama ini dikenal beroperasi tanpa pengawasan ketat dengan kondisi tanah labil dan tebing curam yang rawan longsor.

“Pemerintah daerah akan melakukan evaluasi dan langkah-langkah pencegahan agar peristiwa seperti ini tidak kembali terjadi. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Ini bukan pertama kalinya Ansori menyoroti keras persoalan tambang. Beberapa waktu lalu, ia bahkan melontarkan kritik pedas: “Tak ada gunanya tambang beroperasi jika di sekitarnya masih ada warga yang terbelakang secara ekonomi, daerahnya tertinggal, dan akses jalannya rusak parah.”Ansori juga pernah menegaskan bahwa pemda tidak tinggal diam mengawasi aktivitas pertambangan, baik perusahaan besar maupun tambang rakyat.

Evaluasi Menyeluruh dan Koordinasi Lintas Sektor

Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penanganan pascakejadian berjalan baik serta mengidentifikasi langkah-langkah peningkatan keselamatan di lokasi tambang rakyat. Polisi pun saat ini masih mendalami penyebab pasti longsor—apakah murni kondisi alam atau ada faktor lain yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan.

Ansori berharap kunjungannya dapat memberikan dukungan moril bagi keluarga korban sekaligus menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengedepankan keselamatan.

“Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. Satu hal yang pasti: tragedi Lawang Tua bukan sekadar kecelakaan—itu adalah alarm keras bagi pengelolaan tambang rakyat di Sumbawa.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez