Skrining Terbatas, 1.137 ODGJB Terdata di Sumbawa, Ini Langkah Dinas Kesehatan

2 menit membaca
Sahril
Kesehatan, Pemerintahan - 19 Jan 2026

SUMBAWA, Nuansantb.id – Skrining kesehatan jiwa yang masih terbatas di Kabupaten Sumbawa berpotensi menyembunyikan ancaman gangguan jiwa yang lebih besar. Data terbaru Dinas Kesehatan setempat mengungkap 1.137 Orang Dengan Gangguan Jiwa Berat (ODGJB) telah teridentifikasi, disusul 1.536 ODGJ dan 160 Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Namun, angka ini disebut baru mencerminkan sebagian masalah. “Idealnya seluruh masyarakat Kabupaten Sumbawa diskrining. Ini penting agar gangguan jiwa bisa terdeteksi sejak dini, tidak tiba-tiba sudah dalam kondisi berat,” tegas dr. Abadi Abdullah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumbawa, Senin (19/01/2026).

Ia didampingi Ulva Nalaraya, Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa, yang menyoroti dampak lanjutannya: kasus pasung atau pemasungan di Sumbawa tercatat tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 9 kasus pada 2025.

Cakupan Skrining vs Realita di Lapangan

Sepanjang tahun lalu, Dinkes Sumbawa telah melakukan skrining terhadap 74.304 anak sekolah, 78.551 orang dewasa, 14.307 lansia, dan 586 ibu hamil. Namun, cakupan ini dinilai masih rendah dibanding total penduduk.

Rendahnya temuan ODMK, seperti depresi dan kecemasan, diduga kuat bukan karena kasusnya sedikit, melainkan akibat keterbatasan skrining, pergantian petugas, dan kendala input data. Padahal, gangguan berat seringkali berawal dari masalah psikologis biasa yang tidak tertangani.

Hambatan Penanganan: Stigma, Putus Obat, hingga Penolakan Keluarga

Kendala utama penanganan ODGJ di Sumbawa kompleks: Pertama, Peran Keluarga Lemah: Banyak pasien putus obat karena kurang pendampingan, berujung kekambuhan dan meningkatkan risiko tindakan pasung oleh keluarga.

Kedua, Stigma Masyarakat Kuat: Stigma negatif masih menjadi penghalang besar dalam penanganan dan penerimaan ODGJ di masyarakat.

Ketiga, Keluarga Menolak atau Tidak Mampu: Tidak jarang identitas ODGJ terlantar sulit ditelusuri karena keluarga menolak mengakui atau merasa tidak mampu merawat.

Ulva Nalaraya menambahkan, perempuan menjadi kelompok paling rentan, terutama korban kekerasan, persoalan rumah tangga, dan mantan TKW yang tertipu atau ditelantarkan.

Upaya & Strategi Ke Depan

Meski menghadapi tantangan, Dinkes Sumbawa telah menyiapkan sejumlah langkah:

Layanan Gratis: Pengobatan ODGJ gratis bagi pemegang BPJS Kesehatan. Bagi yang belum memiliki, petugas akan membantu pengurusan.

Infrastruktur Pelayanan: 26 puskesmas telah memiliki tenaga terlatih dan tersertifikasi dalam pelayanan kesehatan jiwa.

Gerakan Sehat Jiwa: Tahun 2026 akan menggencarkan kampanye Gerakan Sehat Jiwa, termasuk program Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) di sekolah dan instansi.

Kolaborasi Lintas Sektor: Memperkuat peran Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) yang melibatkan sekitar 60 lembaga dari berbagai sektor.

“Masalah kesehatan jiwa tidak bisa ditangani sektor kesehatan saja. Ini tanggung jawab bersama,” tegas Ulva, menggarisbawahi perlunya sinergi luas untuk mengatasi persoalan ini.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez