
Sumbawa, Nuansantb.id- Kabupaten Sumbawa dilanda bencana hidrometeorologi berskala luas pada Jumat, 23 Januari 2026. Curah hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang memicu bencana banjir, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung di berbagai penjuru wilayah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.AP, mengkonfirmasi bahwa berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana telah meluas ke 11 kecamatan.
“Ribuan warga terdampak dengan kerusakan yang signifikan pada permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur,” ujar Budi Prasetiyo, Sabtu (24/1/2026).
Dia menyebutkan, Kecamatan Tarano menjadi wilayah terdampak paling parah. “Total warga terdampak mencapai 762 kepala keluarga atau setara dengan 2.017 jiwa,” jelasnya.
Bencana di Tarano tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga melumpuhkan sejumlah fasilitas publik seperti Tempat Pemakaman Umum (TPU), dua gedung PAUD, satu Sekolah Dasar, dan Rumah Dinas Bupati (Rumah Dataku).
Kerugian juga meluas ke sektor pertanian dengan 67 hektare lahan pertanian dan 60 hektare tambak terendam banjir.Wilayah lain yang juga mengalami banjir parah adalah Kecamatan Moyo Hilir, Maronge, dan Empang yang menyebabkan sejumlah desa terendam.
Sementara di Kecamatan Labuhan Badas, genangan meliputi Dusun Karang Padak dan Dusun Kauman, Desa Labuhan Sumbawa, dengan 94 KK atau 376 jiwa terdampak.Ibu kota kabupaten pun tidak luput.
Banjir turut melanda wilayah Kota Sumbawa Besar, tepatnya di Kelurahan Pekat, Seketeng, Uma Sima, Brang Biji, dan Lempeh. “Tercatat 50 unit rumah tergenang dengan total 55 Kepala Keluarga atau 120 jiwa terdampak,” papar Budi Prasetiyo.
Di Kelurahan Brang Biji, bencana diperparah dengan longsor dan ambruknya penahan tebing yang memutus akses jalan.Selain banjir, angin kencang menyebabkan kerusakan terpisah di beberapa lokasi.
“Tiga bangunan sekolah dan Balai Pertemuan Desa di Desa Kelungkung, Kecamatan Batulanteh, rusak. Angin kencang juga menyebabkan rumah warga ambruk di Desa Pulau Kaung, Kecamatan Buer, serta di Desa Luk, Kecamatan Rhee,” jelasnya.
Menghadapi situasi ini, Sekda Budi Prasetiyo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut. Dia juga menekankan pentingnya pelaporan cepat dari tingkat desa untuk mempercepat proses asesmen dan penanganan.
“Ketika terjadi bencana, desa harus cepat melaporkan kejadian itu. Sekarang, 24 jam setelah kejadian, laporan harus sudah masuk agar dapat segera diasesmen dan ditangani,” tutupnya.
Tim penanganan bencana dari BPBD dan instansi terkait saat ini masih terus melakukan pendataan menyeluruh untuk memetakan kebutuhan dan kerusakan lebih akurat guna menentukan langkah tanggap darurat dan pemulihan yang tepat.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar