Kapolsek Labuhan Badas Ajak Jamaah Jum’at Renungkan Dosa dan Siapkan Bekal Kematian di Era Digital

3 menit membaca
Sahril
Headline News, Polri - 09 Okt 2026

Sumbawa, Nuansantb.id – Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi yang serba instan, kesadaran akan kehidupan setelah kematian seringkali terlupakan. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam khotbah Sholat Jum’at di Masjid Ar Rahma Komplek Olat Rarang Labuhan Sumbawa, Jum’at (09/10/2026). Bertindak selaku Khatib, Kapolsek Labuhan Badas, IPTU Eko Riyono, SH., M.Si., memberikan pesan spiritual yang mendalam sekaligus menyentuh aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Dalam khotbahnya, Kapolsek Eko mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan fenomena kehidupan modern saat ini. Ia menyoroti paradoks besar yang terjadi pada manusia di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia memandang dunia, namun sayangnya tidak diimbangi dengan kemampuan introspeksi terhadap diri sendiri.

“Hari ini manusia mampu melihat kejadian di berbagai belahan bumi dalam hitungan detik dalam genggamannya. Namun ironisnya, banyak yang tidak mampu melihat dosa-dosa yang ada dalam dirinya sendiri,” ungkap Kapolsek Eko di hadapan para jamaah.

Pesan ini menjadi pengingat keras bahwa kecanggihan teknologi seringkali membuat manusia lalai akan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. IPTU Eko Riyono menyayangkan pergeseran perilaku masyarakat dalam mencari ilmu. Jika dahulu orang rela berjalan jauh dan bersusah payah untuk menuntut ilmu, kini ilmu seolah hadir sendiri melalui layar kaca perangkat digital. Namun, ia menekankan bahwa yang dicari manusia modern seringkali bukanlah ilmu yang bermanfaat, melainkan hiburan tanpa batas, berita tanpa kepastian, dan kesenangan tanpa kendali.

“Informasi datang begitu deras, tetapi seringkali kita lebih sibuk mencari hiburan yang melalaikan daripada mencari ilmu yang mencerahkan. Kita terjebak dalam kesenangan sesaat yang membuat kita lupa akan tujuan hidup yang hakiki,” tambahnya.

Sebagai seorang pengayom masyarakat sekaligus pemberi nasehat, Kapolsek Eko mengingatkan bahwa keluarga adalah benteng utama dalam menjaga iman. Ia mengajak para jamaah untuk membiasakan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk persiapan menghadapi kematian yang pasti akan datang.

“Mari kita jadikan keluarga kita benteng iman. Biasakan shalat berjamaah, biasakan membaca Al-Qur’an, biasakan berkata jujur, biasakan meminta maaf, dan biasakan mengingat kematian,” pesannya.

Menurutnya, membiasakan hal-hal kecil seperti shalat berjamaah dan membaca Al-Qur’an di rumah akan menciptakan atmosfer yang religius dan harmonis. Hal ini juga menjadi benteng pertahanan moral bagi generasi muda di tengah gempuran budaya luar yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Kebiasaan meminta maaf dan berkata jujur, lanjutnya, akan mencegah terjadinya konflik sosial di masyarakat.

Sinergi Agama dan Kamtibmas

Bukan hanya pesan spiritual, Kapolsek Eko juga memanfaatkan mimbar Jum’at sebagai sarana sosialisasi keamanan. Ia mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan masing-masing. Ia menekankan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi tanggung jawab bersama.

“Kepada para jamaah, mari kita sama-sama menjaga lingkungan kita. Jika ada hal-hal yang menyalahi aturan dan mengganggu ketertiban, segera informasikan kepada petugas,” ujarnya.

Pesan ini disampaikan mengingat pentingnya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan. Kapolsek Eko berharap, dengan kedekatan antara polisi dan masyarakat, segala bentuk tindak kriminalitas maupun gangguan ketertiban dapat dicegah sedini mungkin.

Kegiatan rutin yang dilakukan oleh Kapolsek Labuhan Badas ini merupakan wujud nyata dari implementasi tugas kepolisian sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Kehadiran sosok Kapolsek di tengah-tengah kegiatan keagamaan tidak hanya memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga menyejukkan hati masyarakat dengan nasehat-nasehat rohani yang menyejukkan.

Melalui pesan-pesannya, IPTU Eko Riyono, berhasil menyatukan dua dimensi penting dalam kehidupan bermasyarakat: hubungan vertikal dengan Tuhan (Hablumminallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (Hablumminannas). Pesan tentang mengingat kematian menjadi pengingat bahwa segala perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan, sekaligus memotivasi masyarakat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, taat hukum, dan menjaga ketertiban demi terciptanya Sumbawa yang aman dan damai.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara aparat keamanan dan tokoh agama dapat berjalan harmonis untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dan tertib. (Ril)

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez