
Sumbawa Barat, NuansaNTB.id- Terjadi insiden penembakan yang dilakukan oleh oknum anggota Polres Sumbawa Barat terhadap korban bernama Ramli Ramdani salah satu warga asal Desa Belo, Kecamatan Jereweh, Sabtu 24 Juni 2023.
Insiden tersebut mengakibatkan 3 peluru menembus kedua kaki korban sehingga harus dilarikan ke puskesmas setempat sekitar pukul 22.00 wita.
Kapolres Sumbawa Barat AKBP Yasmara Harahap, S.IK,. dalam keterangannya melalui Kasi Humas IPDA Eddy Soebandi S.Sos,. sangat prihatin atas kejadian penembakan terhadap seorang warga yang dilakukan oleh anggota Polres.
“Kami meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi atas kejadian tersebut dan kasus ini sudah berproses di unit Paminal Propam Polres Sumbawa Barat selanjutnya Perkembangan kasus akan kami sampaikan kepada pihak keluarga secara langsung” tegasnya senin (26/06/2023).
Pada kesempatan tersebut, AKBP Yasmara langsung berkunjung ke rumah korban di Desa Belo Kecamatan Jereweh dengan didampingi oleh Kapolsek Jereweh IPTU Saiful dan perangkat Desa Belo.
“Alhamdulillah dalam kunjungan kami diterima dengan baik oleh pihak keluarga korban dan masyarakat Desa Belo. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujar Kapolres.
Melalui kesempatan tersebut, Kapolres menghimbau kepada tokoh masyarakat dan seluruh warga untuk tetap menjaga kondusifitas wilayah dan diharapkan tetap memelihara keamanan serta ketertiban masyarakat (Harkamtibmas).
Sementara itu, pihak keluarga korban menyampaikan ucapan terima kasih terhadap Kapolres AKBP Yasmara Harahap yang telah bersedia berkunjung ke kediaman korban.
Menurut keluarga Korban, pada dasarnya musibah dan kejadian ini tidak ada yang menginginkan namun itu sudah menjadi takdir dan nasib dari saudara kami.
“Kami sangat mengapresiasi pihak kepolisian yang akan memproses para pelaku sesuai dengan proses hukum yang berlaku dan saya harap pihak kepolisian memberikan informasi perkembangan penanganan kasusnya.” tuturnya.
Kami menyerahkan proses hukum ini ke pihak berwajib karena kami percaya bahwa polri ini baik dan masih banyak anggota polri yang baik namun adanya beberapa oknum bermasalah yang membuat polri ini menjadi tidak baik yang salah satu contohnya seperti anggota yang membuat saudara kami seperti ini, pungkasnya.
Mengutip dari kabarntb.com dimana saat korban Ramli baru saja usai menjalani operasi ditemui wartawan di RSUD Asy Syifa Ahad pagi, mengaku mendapat tiga kali tembakan.
“Ada tiga kali terdengar suara tembakan,” katanya.
Ramli yang didampingi sejumlah keluarganya, menuturkan, peristiwa itu bermula saat dirinya bersama warga melakukan aksi penolakan terhadap aktifitas penambangan di desa setempat. Mereka menghadang keluar masuk kendaraan yang hendak keluar masuk lokasi tambang dimaksud di portal. Kebetulan Ramli mengaku portal tersebut dipasang di lahan miliknya.
Perihal tambang illegal itu sendiri, kata Ramli, sudah dilaporkan ke pemerintah desa dan kecamatan. Bahkan pemerintah setempat sudah menjadwalkan pertemuan antara masyarakat dengan perusahaan pemilik tambang itu untuk proses mediasi pada Senin 26 Juni 2023. Warga meminta perusahaan menghentikan sementara aktifitasnya sampai pertemuan dilaksanakan.
“Tapi perusahaan ini tetap ngotot beraktifitas dengan memasukkan satu unit truck tanki. Padahal kami sudah minta sebelum beraktifitas, selesaikan dulu pertemuan yang sudah dijadwalkan,” ungkapnya.
Sikap perusahaan yang tetap beraktifitas itu dinilai sengaja memprovokasi dan memancing kemarahan warga. Mobil tangki yang mau keluar area tambang dininta Ramli untuk balik ke dalam. Mobil yang dikawal oknum anggota berpakaian lengkap itu mengalah dan tidak jadi keluar.
Tak berselang lama, sambung Ramli, satu kendaraan lain masuk ke lokasi tambang bersama dua anggota intel. Selanjutnya empat oknum anggota polisi juga datang. Keempat anggota tersebut kemudian menghampiri dan mendekatinya. Korban Ramli menyebut keempat anggota itu ada yang berpakaian preman dan ada ysng berpakain dinas.
“Yang berpakaian dinas sepertinya komandannya. Anak buahnya berpakaian sipil. Saya langsung ditanya, kamu pakai parang, maksud saya kalau mau minta parang yang saya bawa, kenapa tidak baik-baik. Toh juga parang yang ada di saya itu langsung saya diserahkan ke mereka. Saya hargai mereka karena aparat,” urainya.
Ramli mengaku berusaha menceritakan alasan sehingga dirinya menghadang truk tanki yang hendak keluar. Namun oknum anggota dimaksud tidak tetap ingin mebawanya ke kantor polisi.
Kondisi itu berlanjut dengan perdebatan antara Ramli dengan oknum aparat dimaksud. “Pokoknya saya mau dibawa, saya tanya mana surat penangkapannya, jangan begitulah, selesaikan baik-baik,”.
“Tiba-tiba datang oknum anggota lain kemudian menarik paksa tangan saya. Pokoknya suasanya sudah lain. Kami langsung baku hantam, kita bergulat disitu sampai jatuh. Dikeluarkan pistol kemudian gagangnya dipukulkan ke kepala saya, barulah terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali,” terangnya.
Melihat Ramli terluka, oknum anggota dimaksud mundur. Namun sempat menawarkan pertolongan kepada korban untuk dibawa ke Puskesmas Jereweh. “Mungkin dikira saya sudah tumbang, saya ambil kayu ngejar mereka sampai ke jalan raya. Mereka mau bantu tapi saya tidak tolak. Saya tidak mau, masa setelah nembak saya mereka mau bantu lagi, saya katakan kalau mau tembak, tembak lagi saja biar puas,” bebernya.
Ramli yang mengalami pendarahan akhirnya meminta tolong ke warga setempat yang berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian. “Saya minta dibawa ke Puskesmas karena darah sudah bercucuran,” tambahnya. (*)

Tidak ada komentar