
Sumbawa, Nuansantb.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa melalui Dinas Kesehatan (Dikes) menggenjot upaya pengendalian Tuberkulosis (TB) dengan strategi baru yang lebih agresif dan menyentuh level akar rumput. Langkah konkretnya adalah dengan membentuk Desa Siaga TB, sebuah inisiatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat desa dalam perang melawan penyakit menular ini.
Kepala Dikes Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, usai pelantikannya di Kantor Bupati Sumbawa, Rabu (01/10/2025), menyatakan komitmennya untuk segera merealisasikan program tersebut. “Kami akan membentuk Desa Siaga TB,” tegasnya kepada wartawan.
Pada fase awal, pembentukan Desa Siaga TB akan dipusatkan di tiga kecamatan percontohan, dengan masing-masing satu desa. Konsepnya adalah pemberdayaan masyarakat. “Kemudian, akan bergerak melibatkan lintas sektor yang ada di desa untuk mengendalikan TB, baik dari sisi penemuan kasus, maupun pengobatannya hingga tuntas,” jelas Sarip.
Model ini mengedepankan pendekatan gotong royong. Akan dibentuk tim khusus di tingkat desa yang terdiri dari kader, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat. Tim inilah yang nantinya menjadi ujung tombak, dari mengedukasi warga tentang gejala TB, mendorong mereka yang bergejala untuk memeriksakan diri, hingga memastikan pasien yang sudah terdiagnosis disiplin menjalani pengobatan hingga dinyatakan sembuh.
“Nanti ada tim yang dibentuk ditingkat desa itu untuk mendampingi. Tentunya dalam bekerja akan didampingi oleh petugas kesehatan dari puskesmas,” tambah Sarip, menekankan bahwa kolaborasi antara tenaga profesional dan tenaga komunitas adalah kunci keberhasilan.
Kejar Target: Dari 575 Menuju 750 Kasus
Latar belakang dari strategi darurat ini adalah data yang mengkhawatirkan. Hingga saat ini, angka kasus TB yang berhasil dicatat di Kabupaten Sumbawa adalah 575 kasus. Namun, jika mengacu pada standar nasional, yaitu 163 per 100 ribu penduduk, dengan jumlah penduduk Sumbawa, seharusnya ada sekitar 750 kasus yang dapat ditemukan.
Artinya, masih ada sekitar 175 kasus, atau lebih dari 23%, yang belum terdeteksi dan berpotensi menjadi sumber penularan baru di komunitas. “Artinya belum 50 persen kita menemukan kasusnya. Sehingga kita membentuk satgas untuk menemukan kasus TB,” pungkas Sarip Hidayat.
Inilah tantangan terberat: menemukan kasus-kasus yang “hilang” tersebut. Desa Siaga TB diharapkan menjadi jawabannya. Dengan kedekatan dan pengetahuan kader tentang kondisi tetangga di sekitarnya, diharapkan stigma seputar TB dapat dikikis dan orang-orang yang enggan berobat ke fasilitas kesehatan dapat terjangkau.
Gebrakan Desa Siaga TB ini bukan hanya tentang memenuhi target numerik semata, melainkan sebuah upaya penyelamatan yang lebih manusiawi dan komprehensif. Ini adalah perlombaan melawan waktu untuk menemukan, mengobati, dan menyembuhkan, demi memutus mata rantai penularan TB dan mewujudkan Sumbawa yang lebih sehat.
Editor/Pemred: Sahril Imran

Tidak ada komentar