Medali di Ujung Panah, Semangat di Tengah Keterbatasan: Kisah SPENZA Atlet Muda Sumbawa

2 menit membaca
Sahril
Headline News, Olahraga - 22 Des 2025

TALIWANG, Nuansantb.id – Sorotan publik mungkin sering berpaling, tetapi tekad sekelompok atlet muda justru makin membara. Dalam kondisi dukungan fasilitas dan perhatian yang masih sangat terbatas, tim panahan SMP Negeri 1 (SPENZA) Kabupaten Sumbawa justru melesatkan prestasi dengan menyumbang segudang medali dalam turnamen bergengsi.

Para pemanah ini sukses mengharumkan nama daerah pada Open Tournament “An Archery Heritage Tourism Festival” di KTC Archery Stadium, Sumbawa Barat, yang berlangsung pada 17-21 Desember 2025. Prestasi ini bukan sekadar catatan kemenangan, melainkan sebuah pernyataan tentang semangat mandiri dan dedikasi tanpa pamrih.

Prestasi gemilang diukir oleh dua atlet kunci. Di kategori putra, Muhammad Alfatih Maulana mendominasi dengan membawa pulang dua medali emas sekaligus (kategori Eliminasi dan Kualifikasi Nasional U15 Putra 30 meter) dan dua medali perunggu (kategori Mix Team U15 dan U21).

Sementara dari kubu putri, Jessica Adelia Kalonice menunjukkan mental juang dengan meraih medali emas (Eliminasi Nasional U15 Putri 30 meter) dan medali perunggu di kategori usia lebih tinggi (Kualifikasi Nasional U21 Putri 40 meter).

Tim panahan SPENZA berhasil meraih total empat medali emas dan dua medali perunggu dalam turnamen tersebut. Yang membuat pencapaian ini istimewa adalah kemampuannya menembus batas usia dan bersaing di level yang lebih tinggi, meski dilatih dengan fasilitas yang serba terbatas.

Kejuaraan berlangsung di KTC Archery Stadium, Sumbawa Barat, dari tanggal 17 hingga 21 Desember 2025.

Kemenangan ini adalah simbol ketangguhan di tengah minimnya perhatian. Pelatih tim, Coach Bagus Karuniarta, menegaskan bahwa pencapaian ini murni buah dari kedisiplinan mandiri atlet dan sinergi luar biasa dari orang tua, yang bersatu dalam ekosistem KRONIK Studio.

“Prestasi ini adalah manifestasi kerja keras individu atlet dan dukungan luar biasa dari orang tua. Kami ingin menunjukkan bahwa meski dalam ‘kesunyian’ perhatian, anak-anak Sumbawa tetap bisa memberikan kontribusi nyata bagi nama baik daerah,” tegas Coach Bagus. Pernyataan ini menyiratkan sebuah perjuangan mandiri, di mana biaya, latihan, dan motivasi banyak digerakkan oleh inisiatif personal dan komunitas, tanpa mengandalkan sokongan maksimal dari pihak terkait.

Gugusan medali ini diharapkan menjadi cambuk sekaligus inspirasi bagi para pemangku kebijakan. Atlet-atlet SPENZA telah membuktikan bahwa panah mereka, dilesatkan dari busur semangat yang kokoh, mampu tepat sasaran di podium. Pertanyaan besar kini menggantung: Akankah prestasi mandiri yang lahir dari keringat ini akhirnya mendapat apresiasi dan dukungan yang layak, atau akan tetap menjadi kisah heroik yang berjuang sendirian di setiap lintasan berikutnya? Mereka sudah membayar dengan prestasi. Kini, giliran kita membalas dengan perhatian.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez