
SUMBAWA, Nuansantb.id– TP PKK Kabupaten Sumbawa mengajak kaum muda, kelompok perempuan, dan penyandang disabilitas untuk bersama-sama membangun strategi kampanye adaptasi perubahan iklim.
Hal ini dilakukan melalui Lokakarya Strategi Adaptasi Perubahan Iklim yang digelar di Aula PKK Kabupaten Sumbawa, Senin (09/02/2026).
Kegiatan hasil kerjasama TP PKK Kabupaten Sumbawa dengan Yayasan Plan International Indonesia ini dihadiri oleh sejumlah organisasi masyarakat dari berbagai kelompok.
Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menekankan peran penting lokakarya dalam meningkatkan pemahaman publik.
“Lokakarya ini diharapkan dapat melahirkan strategi kampanye yang konkret dan aplikatif, serta membentuk jaringan kolaborasi yang kuat antara TP PKK, Plan International Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.
Dedy juga menyelaraskan kegiatan ini dengan program “Sumbawa Hijau Lestari” dari Pemkab Sumbawa dan program “CERAH” (Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Berkelanjutan) dari Plan International. Program Sumbawa Hijau Lestari merupakan upaya menjaga alam melalui penanaman pohon kembali.
Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot, S.E., menjelaskan bahwa lokakarya tidak berhenti pada konsep. “Kegiatan ini sangat bermakna karena membahas strategi dan aplikasi bagaimana cara yang tepat mengkampanyekan perubahan iklim agar dapat menggerakkan perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.
Ida menegaskan bahwa perubahan iklim adalah persoalan tentang hubungan manusia dengan lingkungan. “Oleh karena itu, diharapkan perempuan, anak muda, dan orang dengan disabilitas dapat memiliki andil dalam membangun strategi adaptasi Perubahan Iklim,” harapnya.
Abdul Rohman, Project Coordinator CERAH NTB, mengatakan bahwa perempuan, anak muda, dan disabilitas termasuk kelompok rentan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Dengan mengajak mereka membangun strategi, kita dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap adaptasi, khususnya untuk kelompok rentan ini,” tutur Abdul.
Selama lokakarya, peserta tidak hanya mendapatkan materi dasar tentang perubahan iklim, dampak lokal, prinsip kampanye perubahan perilaku, dan strategi komunikasi inklusif. Mereka juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan sesi story telling.
Melalui metode partisipatif ini, peserta diajak mengidentifikasi isu prioritas di wilayahnya masing-masing dan merancang pesan kampanye yang sesuai dengan konteks lokal, sekaligus menyusun rencana kampanye adaptasi yang praktis.
Lokakarya ini menandai komitmen kolaboratif untuk membangun ketahanan iklim di Kabupaten Sumbawa dengan melibatkan suara-suara dari kelompok yang sering terdampak paling awal dan paling berat.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar