“Peringatan Keras Iran ke Israel: 217 Warga Lebanon Tewas, IRGC Ancam ‘Kalian Akan Menyesal'”

2 menit membaca
Sahril

Teheran, Nuansantb.id – Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan sengit kepada Israel, menyatakan bahwa rezim Zionis akan “menyesal” jika terus melanjutkan serangan militernya ke Lebanon. Ancaman itu disampaikan di tengah eskalasi mematikan yang telah menewaskan sedikitnya 217 warga Lebanon dan melukai 837 lainnya dalam serangan udara Israel pada Rabu (08/04/2026).

Menurut laporan Reuters dan The Guardian, Teheran menilai agresi Israel sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang diupayakan di kawasan. Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan di antara pihak-pihak terkait mengenai cakupan kesepakatan tersebut.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, mengecam keras serangan itu. Ia menyebut skala kehancuran sebagai sesuatu yang “mengerikan” dan menegaskan bahwa kondisi ini menekan perdamaian yang sudah rapuh di Timur Tengah.

“Yang kami lihat di Beirut adalah pemandangan mengerikan: bangunan runtuh, korban jiwa berserakan di antara puing, dan kepanikan di berbagai titik,” ujar tim HAM PBB di lapangan.

Rumah-rumah sakit dilaporkan kewalahan menangani lonjakan korban. Lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi, memperburuk krisis kemanusiaan yang terus membengkak. PBB menegaskan bahwa dalam konflik bersenjata, warga sipil wajib dilindungi sesuai hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan perlindungan maksimal terhadap non-kombatan.

Di tengah tekanan itu, Iran mengambil langkah strategis dengan memperketat kontrol di Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas meningkat drastis, dan sejumlah pergerakan kapal dilaporkan mengalami pembatasan. Langkah ini dinilai para analis sebagai sinyal strategis Teheran dalam merespons dinamika konflik yang berkembang.

Iran juga menegaskan kesiapannya menghadapi “segala skenario”—sebuah pernyataan yang dipahami sebagai indikasi meningkatnya kewaspadaan militer di tengah situasi yang belum stabil.

PBB menyerukan penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran hukum perang serta pertanggungjawaban bagi pihak yang terlibat. Komunitas internasional didesak untuk segera bertindak menghentikan kekerasan dan mencegah krisis yang lebih luas.

Hingga kini, warga sipil tetap menjadi pihak paling terdampak: hidup dalam ketakutan, kehilangan tempat tinggal, dan menghadapi ancaman serangan lanjutan. “Ini bukan sekadar konflik—ini soal kemanusiaan. Dunia dituntut untuk tidak diam,” demikian pernyataan PBB.

Sumber: AFP, Reuters, The Guardian

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez