Kunjungi Sumbawa, Bupati Jarot Pamerkan Transformasi Pertanian di Depan Tim IFAD

3 menit membaca
Sahril
Pemerintahan - 15 Jul 2026

Sumbawa, Nuansantb.id – Sebuah perubahan besar tengah mengubah lanskap pertanian di Kabupaten Sumbawa. Pada Selasa (14/07/2026), Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, secara resmi menerima kunjungan lapangan Tim International Fund for Agricultural Development (IFAD) Program UPLAND, yang dipimpin langsung oleh Country Director IFAD, Mr. Hani Elsadani, di Ruang Rapat H. Hasan Usman.

Di hadapan delegasi internasional itu, Bupati Jarot dengan bangga memaparkan bagaimana Program UPLAND telah merevolusi sektor pertanian lokal, khususnya komoditas bawang merah. Jika dulu petani Sumbawa hanya menjadi “penonton” di lahannya sendiri—karena lebih memilih menyewakan tanah kepada petani dari Bima karena keterbatasan modal dan tingginya risiko—kini keadaan telah berbalik 180 derajat.

“Awalnya petani dari Bima yang menanam bawang merah dengan menyewa lahan di Sumbawa. Sekarang, berkat Program UPLAND, petani Sumbawa sudah menjadi tuan di daerahnya sendiri,” tegas Bupati Jarot.

Kesuksesan ini tidak lepas dari intervensi menyeluruh yang didukung anggaran sekitar Rp105 miliar. Program ini tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga melakukan perubahan mendasar pada pola pikir petani melalui pendampingan intensif, penerapan pupuk organik, serta penguatan kapasitas budidaya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si, melaporkan capaian yang melampaui ekspektasi. Pada tahap pertama (2023–2024), realisasi pengembangan lahan mencapai 853 hektare, melewati target awal 800 hektare. Kini pada tahap kedua (2025–2026), program terus berlanjut di lahan seluas 300 hektare.

Selama enam tahun pelaksanaan, Program UPLAND telah memberikan manfaat nyata kepada 1.838 Kepala Keluarga (KK) petani yang tergabung dalam 143 kelompok tani, tersebar di 51 desa dan 19 kecamatan. Dukungan yang diberikan sangat masif, meliputi:

· 22,5 kilometer Jalan Usaha Tani (JUT)

· 495 unit infrastruktur air (441 sumur dangkal dan 54 sumur dalam)

· 287 unit alat dan mesin pertanian (alsintan)

· 1.147 ton bibit bawang merah untuk lahan seluas 1.148 hektare

Dampaknya terhadap kesejahteraan petani sungguh luar biasa. Budidaya bawang merah kini mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp100–190 juta per hektare setiap musim tanam, dan berpotensi menembus Rp200 juta per tahun jika dilakukan dua kali musim tanam.

Kisah sukses para petani menjadi bukti paling nyata dari transformasi ini:

· Pak Ragif berhasil mengantongi keuntungan bersih hingga Rp445 juta.

· Ibu Erliyanti meraih keuntungan Rp350 juta dan mewujudkan impiannya untuk berangkat umrah.

Selain itu, banyak petani lainnya yang kini telah mandiri, mampu membangun sumur bor sendiri dan merenovasi rumah mereka menjadi bangunan permanen.

Melihat capaian ini, Country Director IFAD, Mr. Hani Elsadani, menyampaikan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, keberhasilan Sumbawa merupakan buah dari kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam membangun pertanian berkelanjutan. Ia berharap kesuksesan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

Di akhir pertemuan, Bupati Jarot menegaskan bahwa keberhasilan UPLAND tidak hanya diukur dari pembangunan fisik atau serapan anggaran, melainkan dari tumbuhnya kepercayaan diri petani untuk mengelola lahannya sendiri.

“UPLAND telah mengangkat martabat petani Sumbawa. Hari ini mereka tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang mampu mengembangkan bawang merah sebagai komoditas unggulan dan menikmati manfaat ekonominya,” tutup Bupati Jarot.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez