
By : Badrul Munir (BM)
Ada sepi yang pekat, sekaligus riuh yang datang sesekali, ketika saya melangkah masuk ke Pasar Brang Bara di kota Sumbawa Besar.
Dalam satu tahun terakhir, saya meluangkan waktu berkunjung hingga dua kali ke sana. Menatap lekat bangunan yang konstruksinya dibangun sejak 12 Oktober 2017 lalu melalui kucuran dana APBN.
Pasar ini awalnya memanggul mimpi besar: mengubah detak pasar tradisional menjadi ritme semi-modern yang rapi. Namun, realita memilih jalan lain. Sejak awal operasionalnya pada 2018, langkahnya tertatih. Dan, dalam tiga tahun terakhir, aula pedagang tradisionalnya kosong melompong. Hanya segelintir kios kecil yang bertahan berjajar setia menjaga sisa-sisa napas kehidupan di sana.
Namun, ada satu pemandangan menarik yang saya tangkap dalam dua kali kunjungan tersebut. Aula pasar yang kosong dari aktivitas jual-beli itu ternyata tidak sepenuhnya mati. Ketika sore menjelang, lantai mulusnya kerap berubah menjadi arena pentas olahraga dan kesenian, tempat berkumpulnya kreativitas kawula muda. Bahkan di momen-momen tertentu, riuh itu memuncak ketika aula disulap menjadi tempat digelarnya event turnamen kartu Rumi.
Ruang publik ini sebenarnya punya magnet sosial yang kuat. Sayangnya, energi itu masih bersifat musiman. Pasar Brang Bara kehilangan arah dan, yang paling krusial, gagap dalam menjawab tantangan era digital.
Lalu, bagaimana jika energi lokal yang sudah terbentuk ini kita integrasikan dengan transportasi dan digitalisasi ekonomi yang matang?
Langkah pertama adalah menyelamatkan fungsi utama ruang publik ini: *menjadikannya terminal khusus travel antarkota dalam provinsi, terutama rute menuju Mataram.*
Selama ini, kita tahu betapa melelahkan menjadi pengguna jasa angkutan di Sumbawa. Loket-loket travel berdiri sendiri-sendiri, berserakan di berbagai sudut kota. Di era serba digital ini, ego lokasi tersebut sudah sangat ketinggalan zaman.
Pasar Brang Bara harus bertransformasi menjadi _Smart Hub Terminal._ Bukan sekadar memindahkan loket fisik, tapi juga mengintegrasikan sistem pemesanan tiket secara _online._
Kehadiran terminal terpusat angkutan travel lintas kota berbasis digital ini akan secara otomatis menyuntikkan aliran ekosistem baru yang modern dan efisien.
Sebuah terminal tidak boleh hanya menjadi tempat transit yang dingin. Di sinilah energi anak muda, geliat UMKM, dan dunia digital bisa melebur dalam skenario kedua: *menyulap pasar menjadi Pusat Kuliner Tradisional dan Oleh-Oleh khas Samawa.*
Sebelum roda travel bergerak menyusuri jalanan menuju Mataram, para pelancong bisa duduk santai menikmati kopi Tepal, Punik, memesan semangkuk Singang hangat, hingga membeli produk UMKM seperti madu dan minyak sumbawa secara nontunai.
Suasana pasar yang hidup dan melek teknologi justru akan memberikan vibe positif, aman, dan kekinian bagi para pelancong.
Bagaimana ke depan? Dari dialog saya dengan para pedagang kios dan seorang aktivis media, meraka menitip harapan. Menanti ketegasan dan adaptasi.
Dua kali kunjungan dalam satu tahun terakhir menyadarkan saya, menghidupkan kembali Pasar Brang Bara bukan lagi soal tumpukan rupiah. *Ini adalah soal regulasi, inovasi, ketegasan kemauan politik untuk bertransformasi.*
Saya sering dialog ringan dengan bapak Bupati H. Syarafuddin Jarot, yang punya atmosfer tinggi terhadap perubahan, yakin beliau akan setuju dengan inovasi, rekayasa sosial, dan teknologi.
Dinas Perhubungan harus berani menarik agen travel ke satu titik, sekaligus menggandeng Dinas Koperasi dan UMKM untuk mendampingi para pedagang masuk ke ekosistem pasar terpadu yang higienis.
Pasar Brang Bara tidak boleh dibiarkan kumuh, menua dalam kesepian dan ketertinggalan zaman. Energinya sudah ada di tangan anak-anak muda yang sesekali meramaikan ruang itu.
Kini tinggal tugas kebijakan untuk membawa penumpang, pedagang, dan teknologi masuk ke dalamnya. Membuktikan bahwa dana rakyat yang sudah tertanam bisa kembali menjadi berkah.
Tempat di mana perjalanan modern dimulai, dan di mana ekonomi Samawa kembali tegak berdiri.
*Mau berubah atau ditertawai zaman?*

Tidak ada komentar