
Sumbawa Besar, Nuansantb.id – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., secara tegas menyatakan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbawa dalam RPJMD 2025-2030. Targetnya, pertumbuhan ekonomi 5-7% per tahun dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 10% secara konsisten. Namun, tantangannya adalah bagaimana mewujudkan rencana tersebut menjadi kenyataan.
Salah satu solusi yang dinilai paling realistis adalah pengembangan Ekonomi Biru (Blue Economy) dan Pariwisata Terintegrasi di Kawasan SAMOTA (Sumbawa, Moyo, dan Tambora). Kawasan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) dalam Perda No. 5 Tahun 2024, menjadikannya prioritas pengembangan di NTB.
Potensi Ekonomi Biru yang Masih Terbuka Lebar
Menurut Ir. H. Badrul Munir, M.M, Wakil Gubernur NTB periode 2008-2013, SAMOTA memiliki kekuatan ekonomi kelautan yang luar biasa. Data terakhir menunjukkan, dalam lima tahun terakhir (2020-2024), kawasan ini telah menyumbang Rp73,81 triliun dari lima komoditas utama: rumput laut, udang, kerapu, ikan tangkap, dan bandeng, dengan rata-rata Rp14,762 triliun per tahun.
“Angka ini fantastis, sayangnya belum berkontribusi signifikan terhadap PAD Sumbawa karena produk yang dihasilkan masih berupa bahan mentah. Regulasi menghalangi pemda memungut pajak dari komoditas mentah, sehingga perlu inovasi industri pengolahan,” tegas Badrul Munir, Selasa (22/07/2025).
Ia menambahkan, jika Sumbawa mampu mengembangkan industri pengolahan—mulai dari skala rumah tangga, UMKM, hingga besar—dan menarik pajak 1% saja, maka PAD bisa bertambah Rp140 miliar per tahun. “Ini setara dengan total PAD Sumbawa saat ini. Bayangkan jika industri olahan berkembang, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Pariwisata Terintegrasi: Kunci Peningkatan Ekonomi Berkelanjutan
Selain ekonomi biru, pariwisata terintegrasi menjadi solusi lain. Kawasan SAMOTA memiliki destinasi kelas dunia, seperti: Hiu Paus di Teluk Saleh, Air Terjun Matajitu di Pulau Moyo, Taman Wisata Alam Laut Teluk Saleh, Pulau-pulau kecil eksotis dan Budaya pacuan kuda dan tradisi pesisir.
“Pariwisata harus dilihat sebagai industri pergerakan spasial. Kita tidak bisa mengelolanya secara amatir. Harus ada integrasi antarobjek wisata, penguatan infrastruktur, dan pengemasan paket wisata yang menarik,” jelas Badrul Munir.
Ia mencontohkan Bali dan Labuan Bajo yang sukses karena pendekatan terintegrasi dan berkelanjutan. “SAMOTA punya semua potensi itu. Jika dikelola profesional, bisa menjadi destinasi unggulan NTB bahkan nasional,” tegasnya.
Langkah Strategis yang Perlu Diambil:
Pertama, Pengembangan Industri Pengolahan Hasil Laut – Mendorong UMKM dan investasi besar untuk hilirisasi produk.
Kedua, Peningkatan Infrastruktur Pariwisata – Akses transportasi, akomodasi, dan fasilitas pendukung.
Ketiga, Pemasaran Terpadu– Branding kuat sebagai destinasi wisata premium.
Keempat, Regulasi Pendukung – Insentif bagi investor dan kemudahan perizinan.
“Dengan strategi tepat, SAMOTA bisa menjadi lokomotif ekonomi Sumbawa. Ini bukan sekadar wacana, tapi peluang nyata yang harus direalisasikan,” pungkas Badrul Munir.
Editor/Pemred: Sahril Imran

Tidak ada komentar