
Jenderal Kontroversial Hossein Dehgan Gantikan Ali Larijani, Sinyal Keras Iran di Tengah Ketegangan
TEHERAN, Nuansantb.id- 25 Maret 2026 – Perebutan kursi pucuk pimpinan Dewan Keamanan Nasional Iran resmi berganti. Jenderal Hossein Dehgan, figur keras yang lama ditempa dalam Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), kini resmi menggantikan Ali Larijani. Pergantian ini terjadi menyusul wafatnya Larijani, dan langsung memicu kewaspadaan tinggi di kalangan intelijen Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
Meski bukan nama baru di panggung militer Timur Tengah, kepemimpinan Dehgan dinilai akan mengubah pendekatan strategis Teheran dari yang sebelumnya relatif moderat menjadi lebih militan. Dehgan bukan sekadar jenderal biasa; namanya telah lama menjadi arsip panas dalam dokumen intelijen AS. Ia tercatat sebagai salah satu aktor kunci yang dituding berada di balik serangan Bom Beirut 1983, tragedi berdarah yang menewaskan 241 personel militer Amerika Serikat dan 58 tentara Prancis.
Karier Dehgan terbentuk di medan paling panas. Sejak era perang saudara Lebanon, ia dikenal sebagai “tangan panjang Iran” yang beroperasi di luar perbatasan. Pengalamannya tidak hanya terbatas pada komando lapangan; ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memberinya pemahaman utuh tentang persenjataan strategis dan program rudal balistik Iran.
Jika dulu Dehgan dikenal berpengaruh sebagai komandan lapangan yang lincah, kini ia kembali ke puncak kekuasaan dengan pangkat jenderal penuh serta bekal pengalaman birokrasi dan geopolitik yang jauh lebih matang. Pengamat militer regional menilai, kombinasi antara pengalaman tempur di Lebanon dan pemahaman mendalam tentang struktur pertahanan membuatnya jauh lebih berbahaya dibanding pendahulunya.
Kematian Ali Larijani, yang selama ini dikenal sebagai politisi ulung dengan pendekatan diplomatik, justru dinilai membuka jalan bagi konsolidasi kekuatan garis keras di struktur tertinggi keamanan Iran. Dalam struktur pemerintahan Iran, Dewan Keamanan Nasional adalah institusi kunci yang menentukan kebijakan luar negeri dan pertahanan, menjadikan posisi ini setara dengan otoritas tertinggi setelah Pemimpin Tertinggi.
Kehadiran Dehgan dipercaya bakal membuat Israel dan AS semakin waspada. Sumber-sumber intelijen Barat meyakini, di bawah komando Dehgan, Iran akan mengadopsi postur yang lebih ofensif, terutama dalam konflik proksi di Lebanon, Suriah, dan Teluk. Langkah ini sekaligus mengirim sinyal bahwa meski dihantam tekanan sanksi, Teheran tetap mengedepankan figur militan untuk menjaga pengaruh regionalnya.
Dengan pengalaman panjang dalam operasi rahasia dan sejarah panjang konflik dengan kekuatan Barat, kepemimpinan Dehgan diprediksi akan menjadi babak baru dalam eskalasi ketegangan Timur Tengah. (SI)

Tidak ada komentar