
Jakarta, Nuansantb.id – Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus menunjukkan keseriusannya dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Langkah nyata itu dibuktikan dengan terjun langsungnya Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, ke Jakarta guna mengawal rencana revitalisasi tiga cagar budaya utama di Tanah Samawa, Kamis (03/09/2026).
Pengawalan ketat dilakukan melalui pertemuan strategis dengan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Agus Widiatmoko. Fokus pembahasan menyasar dua hal krusial: realisasi anggaran stimulan dari pemerintah pusat yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah serta pematangan Detail Engineering Design (DED) sebagai landasan teknis pelaksanaan.
Tiga istana bersejarah peninggalan Kesultanan Sumbawa yang menjadi prioritas revitalisasi adalah Istana Dalam Loka, Istana Bala Kuning, dan Istana Bala Putih. Ketiganya bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjalanan sejarah, peradaban, dan identitas masyarakat Sumbawa.
Istana Dalam Loka dikenal sebagai salah satu rumah panggung kayu terbesar di Indonesia dengan 99 tiang penyangga yang melambangkan Asmaul Husna. Sementara Istana Bala Kuning berfungsi sebagai pusat kegiatan adat Kesultanan serta tempat penyimpanan benda-benda pusaka kebesaran. Adapun Istana Bala Putih merupakan bangunan berarsitektur kolonial yang tengah dipulihkan setelah mengalami kebakaran beberapa tahun lalu.
Wakil Bupati Ansori menegaskan bahwa pengawalan sejak tahap perencanaan merupakan keniscayaan agar revitalisasi tidak sekadar menghabiskan anggaran, tetapi benar-benar sesuai standar teknis dan prinsip pelestarian cagar budaya. Penyusunan DED menjadi bagian terpenting yang harus dimatangkan sebelum program memasuki tahap pelaksanaan.
“Revitalisasi ini bukan hanya soal memperbaiki bangunan. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar untuk menjaga identitas daerah, merawat sejarah dan peradaban Tana Samawa, serta memastikan generasi muda tetap mengenal nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur. Kalau kita kehilangan warisan ini, maka kita juga kehilangan sebagian dari jati diri kita,” tegas Wabup Ansori.
Langkah jemput bola ke pemerintah pusat ini juga dimaksudkan untuk memastikan proses perencanaan berjalan transparan dan akuntabel, tanpa mengabaikan kaidah konservasi terhadap bangunan-bangunan bernilai sejarah tinggi. Pemerintah daerah optimistis dukungan pusat dapat mempercepat proses revitalisasi dan memberikan kepastian terhadap keberlanjutan pelestarian aset budaya di Sumbawa.
Lebih jauh, revitalisasi ketiga istana tersebut tidak berhenti pada aspek fisik bangunan. Pemerintah daerah melihat potensi besar untuk menjadikan kawasan cagar budaya sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya. Haji Ansori berharap ketiga istana ini kelak tidak hanya berdiri kokoh sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga hidup sebagai pusat edukasi, pusat kebudayaan, dan destinasi wisata sejarah yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami ingin tiga istana ini nantinya tidak hanya berdiri kokoh sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga hidup sebagai pusat edukasi, pusat kebudayaan, dan destinasi wisata sejarah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, keberadaan destinasi sejarah tersebut dinilai dapat menjadi magnet wisata baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Revitalisasi cagar budaya pun diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi Sumbawa: menjaga identitas dan warisan sejarah Tanah Samawa, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Kementerian Kebudayaan RI, dan Kesultanan Sumbawa menjadi kunci sukses program ini. Dengan komitmen bersama, warisan budaya leluhur di Tanah Samawa akan tetap terjaga, terawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai kebanggaan daerah sekaligus aset budaya nasional.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar