
Sumbawa, Nuansantb.id – Isu kelangkaan Gas LPG 3 Kilogram yang tak kunjung usai di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi polemik berkepanjangan di tengah masyarakat. Antrean panjang dan harga yang melambung di pasaran membuat warga resah. Namun, di tengah kegelisahan itu, sebuah ide kreatif lahir dari seorang putra daerah yang kini bermukim di Bandung, Jawa Barat.
Adalah Kolonel CPM (Purn) Yudi Amiruddin, S.H., M.Kn., seorang pensiunan perwira TNI yang tak tinggal diam melihat kampung halamannya dilanda krisis energi. Ia menciptakan terobosan baru berupa kompor berbahan bakar sekam padi, yang diklaim mampu menjadi solusi jangka panjang pengganti Gas LPG 3 Kg.

Ide ini bermula dari keprihatinan mendalam Yudi saat melihat unggahan rekan-rekan seangkatannya di WA Grop dan media sosial. “Teman-teman sekolah memposting video demo kelangkaan Gas LPG di kampung halaman Sumbawa. Melihat itu, saya tergerak untuk berinisiatif membuat kompor sekam ini. Kompor ini cukup sekali dibuat bisa dipakai seumur hidup, hanya berbahan baku sekam padi,” ujar Yudi saat dihubungi wartawan Nuansantb, Kamis (10/09/2026).
Kompor yang dikembangkan Yudi bukanlah kompor sembarangan. Ia menggunakan material stainless steel khusus yang memiliki ketahanan terhadap api hingga suhu 1.000 derajat Celsius. Menurutnya, bahan baku logam berkualitas tinggi ini sengaja didatangkan langsung dari luar daerah karena belum tersedia di Sumbawa.
“Bahan stainless tahan api ini belum ada di Sumbawa, dia kita datangkan khusus untuk membuat kompor sekam ini,” jelasnya. Yudi menambahkan bahwa desain kompor dibuat sedemikian rupa agar awet dan tidak mudah rusak, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya berulang untuk membeli tabung gas.
Dalam pengoperasiannya, kompor ini terbilang cukup sederhana dan ekonomis. Sekam padi yang melimpah di Sumbawa digunakan sebagai bahan bakar utama. Untuk memaksimalkan pembakaran, kompor dilengkapi dengan blower kecil yang berfungsi menyalurkan udara ke dalam tungku sekam. Menariknya, blower tersebut hanya membutuhkan daya listrik yang sangat kecil, yakni sekitar 2 Watt.
“Menggunakan sekam dari padi dibantu blower kecil untuk menyalurkan udara ke sekam, dan dibantu listrik berkapasitas cukup 2 Watt. Sementara untuk mengecilkan atau membesarkan api diatur melalui blower kecil itu,” terang Yudi. Dengan teknologi ini, satu ember sekam padi diklaim mampu digunakan untuk memasak sepanjang hari, menjadikannya sangat efisien dari segi biaya operasional.
Dukungan Politik dan Harapan Produksi Massal
Inovasi putra Sumbawa ini mendapat respons positif dari kalangan legislatif. Penasehat Fraksi PAN yang juga anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Sumbawa, Syamsul Hidayat, S.E., M.Si., menyatakan dukungan penuh terhadap ide tersebut. Menurutnya, kompor sekam ini adalah jawaban atas polemik yang selama ini meresahkan masyarakat.
“Ini ide solutif dan bisa menjadi solusi polemik terkait Gas LPG 3 Kg yang masih langka di Kabupaten Sumbawa. Pemerintah daerah harus menyambut baik ide kreatif ini, dan kami di DPRD Sumbawa bisa menganggarkan lewat dana Pokok-pokok pikiran,” ungkap pria yang akrab disapa Dayat ini.
Dayat menilai, kompor sekam memiliki banyak keunggulan komparatif dibandingkan bahan bakar gas. Selain ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian, ketersediaan bahan bakunya juga tersedia.
“Pemda harus mengambil peran mengatasi masalah LPG ini, salah satunya melalui Kompor sekam ini. Ke depan bisa diproduksi sesuai kebutuhan masyarakat,” tegas Sekjen PAN Sumbawa tersebut.
Lebih lanjut, Dayat menjelaskan bahwa jika kompor ini diproduksi massal dan didistribusikan dengan baik, ketergantungan masyarakat Sumbawa terhadap Gas LPG 3 Kg yang disubsidi pemerintah bisa berkurang drastis. Hal ini tidak hanya menghemat anggaran negara, tetapi juga memberdayakan potensi lokal.
“Cukup satu ember sekam padi bisa memasak hingga seharian. Ini sangat membantu ekonomi keluarga, terutama di tengah harga gas yang terus melonjak dan uniknya dari hasil pembakaran sekam bisa dijadikan kompos,” ujarnya.
Langkah Nyata Menuju Kemandirian Energi
Kehadiran kompor sekam ini diharapkan tidak sekadar menjadi wacana, melainkan langkah awal menuju kemandirian energi di tingkat rumah tangga. Dayat berharap ide ini bisa segera diadopsi oleh pemerintah daerah dan diproduksi secara massal, sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Sumbawa.
Dengan dukungan dari DPRD dan antusiasme masyarakat, kompor sekam karya putra daerah ini berpotensi menjadi solusi berkelanjutan. Selain mengatasi kelangkaan gas, inovasi ini juga menjadi bukti bahwa potensi lokal mampu menjawab tantangan global jika dikelola dengan kreativitas dan kemauan.
Jika terealisasi, Kabupaten Sumbawa bisa menjadi pelopor penggunaan energi alternatif berbasis limbah pertanian di Indonesia. Kompor sekam bukan hanya alat memasak, tetapi simbol perlawanan terhadap krisis energi yang selama ini membelenggu masyarakat kecil.
“Harapan saya, kompor ini bisa dipakai masyarakat luas. Ini bukan hanya soal memasak, tapi soal bagaimana kita mandiri dan tidak bergantung pada energi yang terus naik harganya,” pungkas Dayat.
Dengan segala keunggulan dan dukungan yang ada, kompor sekam ini layak menjadi prioritas dalam agenda pembangunan daerah. Masyarakat Sumbawa kini menantikan realisasi produksi, agar dapur-dapur di pelosok desa kembali mengepul tanpa harus antre gas.
Turut hadir menyaksikan pengoperasian Kompor Sekam tersebut di kediaman Anggota DPRD Sumbawa Ida Rahayu, S.AP,. dari Fraksi PAN, Syamsul Hidayat, SE,. M.Si, M. Taufik (Gelora), Saiful Arif (PPP) Alen Taryadi, SH,. Ahmad Nawawi (PPP) dan Kades Brang Kolong, Ahmad.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar