Wabup Ansori Ajak 99 Tokoh Tana Samawa Rumuskan Arah Generasi Sumbawa

2 menit membaca
Sahril

SUMBAWA, Nuansantb.id — Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, menegaskan pentingnya menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebudayaan Tau Samawa sebagai fondasi utama pembangunan karakter masyarakat di tengah arus modernisasi. Penegasan itu disampaikannya saat menghadiri Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa di Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, Jumat (25/09/2026).

Kegiatan pemikiran lintas tokoh tersebut turut dihadiri pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A.; Rektor Universitas Samawa, Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd.; Ustadz H. Yadi Surya Diputra, S.Sos., M.A. (Ustadz Suryo); serta puluhan tokoh adat, akademisi, dan pimpinan lembaga di Tanah Samawa.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Sumbawa menyampaikan bahwa Silatulfikri bukan sekadar forum silaturahmi biasa, melainkan ruang strategis untuk menyatukan gagasan, persepsi, dan visi dalam merumuskan arah masa depan daerah.

“Yang kita pikirkan bukan hanya Sumbawa hari ini, tetapi Sumbawa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Mohamad Ansori di hadapan para tokoh yang hadir.

Ia menekankan bahwa falsafah hidup dan nilai-nilai luhur Tau Samawa tidak boleh berhenti sebagai dokumen historis atau wacana semata. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan secara nyata dalam tata kelola kehidupan bermasyarakat hingga mengakar menjadi budaya penuntun. Menurutnya, keberhasilan pembangunan fisik dan ekonomi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter serta jati diri daerah.

Wabup juga memaparkan sejumlah capaian indikator makro pembangunan daerah yang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa tercatat mencapai 4,12 persen, angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 11,79 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di posisi 2,60 persen.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan angka statistik tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.

“Pembangunan bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang tumbuh di dalamnya. Kita harus tetap tahu dari mana kita berasal. Falsafah Taket ko Nene, Kangila Boat Lenge harus tetap menjadi kompas moral kita menghadapi masa depan,” tegasnya.

Mengakhiri arahannya, Wakil Bupati berharap forum Silatulfikri mampu menjadi penyaring budaya di era globalisasi. Ia mengajak seluruh elemen tokoh daerah bersatu memilih dan mengadaptasi nilai-nilai historis yang masih relevan guna menjawab berbagai tantangan zaman.

“Tidak semua hal baru harus kita terima mentah-mentah. Kita membutuhkan filter. Karena itu, mari kita bersama-sama bertanya dan merumuskan, nilai apa dari masa lalu yang masih sangat relevan untuk menjaga dan membimbing generasi kita ke depan,” pungkasnya. (Ril)

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez