Angka Stunting Menurun dari 37 Desa Lokus Menjadi 11, Ini Harapan Bupati

2 menit membaca
Favicon
gera
Kesehatan, Pemerintahan - 02 Agu 2022

Sumbawa Besar, NuansaNTB.id- Bupati Sumbawa diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesra, Varian Bintoro, S.Sos. M.Si., menghadiri Kegiatan Konvergensi Program Percepatan Penurunan Stunting (Aksi Rembuk Stunting) di Kabupaten Sumbawa, Selasa (02/08/2022).

Kegiatan yang digelar di Aula Madilaoe ADT Kantor Bupati Sumbawa tersebut dihadir Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Sumbawa, Para Camat, Ketua PIC Rembuk Stunting, Ketua TP2S, Ketua FK2D, Ketua Tim Penggerak PKK, serta Para Kepala Desa se-Kabupaten Sumbawa.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa, angka balita stunting di Kabupaten sumbawa sudah mulai terjadi penurunan. Namun penanganan stunting harus tetap fokus dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Intervensi gizi spesifik kata Bupati, dapat membantu menurunkan angka stunting 20-30 %, sedangkan intervensi gizi sensitif berperan 70-80%. melihat persentase terbesar berada pada intervensi sensitif maka diharapkan adanya kerjasama dan komitmen yang kuat antara organisasi perangkat daerah dan lembaga-lembaga dalam upaya percepatan pencegahan stunting.

Selain itu lanjut Bupati, daerah lokus stunting pada tahun 2021 berjumlah 37 desa lokus stunting dan pada tahun 2022 ada 11 Desa Lokus Stunting yang ditentukan berdasarkan tingginya prevalensi balita stunting dan jumlah balita stunting.

“Ada beberapa Desa Lokus Stunting pada tahun 2021 yang masih ditetapkan lokus pada tahun 2022 antara lain Desa Labuhan Bajo, Jorok, Bunga Eja, Jotang Beru, Karang Dima, Labuhan Sumbawa, Labuhan Aji, Suka Damai, Rhee, Mungkin, dan Sebeok,” terang Bupati.

Bupati berharap, ada komitmen bersama untuk percepatan penanganan dan penurunan stunting, serta menjadi dasar gerakan penurunan stunting di Kabupaten sumbawa melalui integrasi program/kegiatan yang dilakukan antar perangkat daerah, penanggung jawab layanan dan partisipasi masyarakat sehingga penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa dapat terwujud.

StuntingKetua PIC Rembuk Stunting, Yuni Ilmi Kurniaty, S.STP., M.Si,. dalam laporannya menyampaikan, Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh anak berusia dibawah 5 tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.

Angka prevalensi balita stunting di Kabupaten Sumbawa mengalami penurunan dari 10,58% pada tahun 2019 menjadi 8,39% pada tahun 2021. Namun upaya percepatan penurunan stunting terus diupayakan secara konvergen, masif, sinergi dengan seluruh elemen Pemerintah, Perguruan Tinggi, NGO, dunia usaha dan masyarakat/keluarga.

“Melalui ikhtiar intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitive dengan penampisan mulai dari Hulu hingga ke Hilir agar prevelansi stunting terus dapat diturunkan sesuai dengan amanah presiden dan strategi nasional dalam percepatan penurunan stunting dan generasi Indonesia khususnya di Kabupaten Sumbawa,” tutupnya. (Nuansa/**)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez