
Sumbawa, Nuansantb.id – Musibah tenggelam menimpa seorang balita berusia 2 tahun di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Korban, Abizar Algifari, ditemukan meninggal dunia setelah hanyut di aliran sungai (Tiu) yang berada tak jauh dari rumahnya, Rabu (01/04/2026) pagi. Kejadian ini menjadi duka mendalam bagi keluarga besar warga Dusun Talwa A, Desa Leseng, Kecamatan Moyo Hulu.
Kepala Bidang (Kabid) II Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusdianto AR, membenarkan peristiwa tersebut. Informasi awal diterima pihaknya dari laporan Kepala Desa Leseng, Rajudin, yang langsung diteruskan ke tim reaksi cepat.
“Korban bernama Abizar Algifari, anak dari pasangan Bapak Julkarnain dan Ibu Suwianti, warga RT 01/05 Dusun Talwa A. Kejadian diperkirakan sekitar pukul 09.10 Wita,” ujar Dr. Rusdianto.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, peristiwa nahas itu bermula saat korban tengah bermain di teras rumah ditemani sang ibu. Sekitar pukul 09.05 Wita, ibunya sempat masuk ke dalam rumah untuk mengambil pakaian. Namun, saat kembali ke teras beberapa saat kemudian, sang ibu sudah tidak mendapati putranya di tempat.
Kepanikan langsung menyelimuti keluarga. Pencarian dilakukan di sekitar pekarangan rumah, namun korban tak kunjung ditemukan. Kecurigaan keluarga kemudian mengarah ke aliran Sungai Tiu Jati yang berada tepat di samping rumah korban. Di tepi sungai, warga menemukan sebuah pancing (kerek) milik korban serta jejak bekas kaki yang terpeleset di pinggiran tebing.
“Penemuan barang-barang itu menjadi petunjuk bagi keluarga dan warga bahwa kemungkinan korban terjatuh ke sungai. Warga langsung berinisiatif melakukan pencarian menyusuri aliran sungai,” tambah Dr. Rusdianto.
Setelah dilakukan pencarian intensif selama sekitar 40 menit, korban akhirnya ditemukan oleh masyarakat pada pukul 09.45 Wita. Abizar ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa (meninggal dunia) sekitar 300 meter dari lokasi awal dugaan jatuh, tepatnya di kawasan Tiu Talwa.
Tim BPBD yang tiba di lokasi langsung melakukan evakuasi dan identifikasi. Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan otopsi, dengan memilih segera memakamkan korban.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya yang bermukim di bantaran sungai, untuk selalu meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Sedetik kelengahan orang tua di area rawan seperti sungai dapat berakibat fatal,” pesan Dr. Rusdianto AR mengakhiri keterangannya.
Hingga berita ini diturunkan, suasana duka masih menyelimuti Dusun Talwa A. Warga kompak membantu keluarga mempersiapkan pemakaman putra bungsu pasangan Julkarnain dan Suwianti itu.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar