
SUMBAWA, Nuansantb.id – Memasuki musim tanam kemarau I tahun 2026, para petani di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), diminta untuk ekstra hati-hati dan bijak dalam menentukan pola tanam. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prediksi bahwa tahun ini akan terjadi kemarau panjang dengan suhu lebih panas dari biasanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si, secara tegas mengimbau agar seluruh petani tidak serta-merta menanam komoditas seperti biasanya, melainkan harus menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan air di lahan masing-masing.
“Memasuki musim tanam kemarau I, kami meminta petani di Kabupaten Sumbawa untuk bijak menentukan pola tanam. Pastikan kondisi dan ketersediaan air benar-benar mencukupi. Ini penting untuk mengurangi risiko gagal panen yang tidak kita inginkan, mengingat prediksi BMKG tentang kemarau panjang,” ujar Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si, kepada wartawan di Sumbawa, Selasa (14/04/2026).
Lahan Pertanian Terluas di NTB Jadi Tantangan Tersendiri
Kabupaten Sumbawa dikenal sebagai lumbung pangan dengan lahan pertanian terluas di Provinsi NTB. Data Dinas Pertanian setempat mencatat, luas lahan pertanian basah mencapai 54.918 hektare, sementara lahan pertanian kering sekitar 83.000 hektare. Luasnya area ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mitigasi bencana kekeringan.
Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si, menjelaskan bahwa pada musim tanam kemarau I, biasanya lahan basah didominasi oleh komoditas padi, jagung, dan bawang merah. Sementara itu, di lahan kering, petani kerap menanam kacang hijau, wijen, sayuran, hingga berbagai jenis palawija lainnya.
“Namun, di tahun 2026 ini, prediksi cuaca tidak bersahabat. Kami tidak melarang petani menanam komoditas tersebut, tapi harus ada perhitungan matang. Jangan memaksakan menanam padi jika air hanya cukup untuk jagung atau kacang hijau,” tegasnya.
Pemerintah Siapkan Bantuan Pompanisasi hingga Sumur Bor
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Bantuan tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga infrastruktur pertanian yang vital.
“Kami telah menyiapkan paket bantuan seperti sumur dalam dan sumur dangkal. Selain itu, pemerintah juga akan menggelontorkan bantuan pompanisasi dan pipanisasi untuk daerah-daerah yang terdampak,” jelas Ir. Ni Wayan Rusmawati.
Bantuan pompa air ini, lanjutnya, akan digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang masih tersedia, seperti sungai atau mata air di sekitar lahan pertanian. Pemerintah daerah juga akan membangun bendungan kecil serta sumur bor di wilayah-wilayah yang terancam kekeringan parah.
“Intinya, jika ada sumber air meskipun jauh, akan kami bantu dengan pipanisasi. Jika airnya di bawah tanah, akan kami bantu dengan sumur bor. Tidak ada daerah yang boleh menyerah sebelum mencoba seluruh opsi,” tambahnya.
Kunci Utama: Koordinasi dan Informasi Cuaca
Lebih dari sekadar bantuan fisik, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si, menekankan bahwa keberhasilan mengatasi gagal panen sangat bergantung pada koordinasi dan kepatuhan petani terhadap arahan di lapangan. Ia meminta agar setiap petani aktif berkoordinasi dengan penyuluh pertanian serta mengikuti hasil rapat bersama UPTD Pengairan.
“Pendampingan dan upaya menggerakkan kelompok tani harus kita lakukan bersama-sama. Jangan bekerja sendiri. Kami juga meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim dari BMKG. Informasi itu akurat dan bisa menjadi panduan kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam,” pintanya.
Dengan langkah antisipatif ini, pemerintah berharap sektor pertanian di Sumbawa tetap tangguh. Meski cuaca ekstrem menghadang, petani diharapkan tidak panik, melainkan lebih cerdas dalam membaca peluang dan keterbatasan air.
“Kemarau panjang bukan berarti tidak bisa panen. Artinya, kita harus bertani lebih cerdas. Bijak dalam pola tanam adalah kuncinya,” pungkas Ir. Ni Wayan Rusmawati.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar