Pemda Sumbawa Dorong Petani Lokal, BUMDes Hingga SMK Terlibat Penyediaan Pasokan MBG

3 menit membaca
Sahril
Pemerintahan - 01 Okt 2025

Sumbawa, Nuansantb.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumbawa tidak hanya berhenti pada upaya penanggulangan stunting dan peningkatan gizi anak sekolah. Pemerintah Daerah kini mengintensifkan strategi agar program nasional ini mampu menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

Melalui Badan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bappeda), Pemkab Sumbawa mendorong integrasi penuh antara MBG dengan potensi lokal. Kebijakan ini menempatkan petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai tulang punggung pasokan kebutuhan dapur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Program MBG sudah mulai dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meski belum merata ke semua sekolah yang ada. Sebagai upaya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan meningkatkan ekonomi masyarakat, kebutuhan dapur dari SPPG harus bersumber dari petani, peternak, hingga nelayan lokal,” tegas Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dedy Heriwibowo, dalam pertemuan dengan seluruh Kepala SPPG dan Yayasan di Kantor Bappeda, Selasa (30/09/2025).

Langkah strategis ini, menurut Dedy, penting untuk membangun sebuah ekosistem ekonomi yang berputar di dalam daerah. “Hal ini penting guna membangun ekosistem ekonomi lokal dalam Program MBG sehingga kehadiran MBG dapat dirasakan semua lapisan masyarakat manfaatnya,” jelasnya. Dengan kata lain, dana yang dialokasikan untuk MBG diharapkan akan berputar dan mengalir kembali ke kantong masyarakat Sumbawa sendiri, menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan.

Tantangan dan Peluang Sayur Lokal

Saat ini, komoditas pangan seperti beras, ikan, daging, dan ayam dinilai masih cukup memadai pasokannya dari dalam daerah. Namun, untuk sayur-mayur, SPPG masih bergantung pada pasokan dari Pulau Lombok, Kabupaten Bima, dan Dompu.

Melihat celah inilah, Bappeda meluncurkan tantangan sekaligus peluang bagi para petani lokal. “Dengan kondisi seperti ini, saya mengajak dan mendorong petani lokal, BUMDes, bahkan SMK Jurusan Pertanian untuk membudidayakan sayur-sayuran guna menopang kebutuhan Program MBG,” pintanya.

Ajakan ini bukan tanpa alasan. Dengan mengandalkan pasokan lokal, beberapa masalah mendasar dapat diatasi. “Dengan ketersediaan bahan baku lokal yang memadai, akan meminimalisir kerusakan bahan yang mudah rusak seperti sayur-sayuran maupun buah-buahan karena jarak tempuh yang dekat. Sekaligus menjamin kebersihan dan higienitas proses produksi,” papar Dedy. Sayuran yang dipetik dan langsung didistribusikan ke sekolah-sekolah akan menjamin kesegaran dan nilai gizi yang lebih tinggi untuk anak-anak.

Sinergi MBG dan Koperasi: Merajut Kemandirian Ekonomi

Dedy Heriwibowo juga menegaskan peran vital koperasi dalam menopang MBG berbasis lokal. Ia melihat adanya keselarasan yang sempurna antara program MBG dan visi pemerintahan pusat. “Program Presiden Prabowo mengolaborasikan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KMP) merupakan bentuk keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Integrasi ini diyakini akan menciptakan model yang powerful. Koperasi dapat berperan sebagai penghubung (aggregator) antara petani/nelayan kecil dengan SPPG, mengelola pembiayaan, sekaligus menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan. Skema ini akan memperkuat posisi tawar petani dan nelayan, sekaligus memastikan keberlanjutan program MBG itu sendiri.

Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan besar: membangun masa depan bangsa. “Dalam mengintegrasikan Program Kesehatan Nasional dengan pembangunan ekonomi kerakyatan, generasi emas 2045 dapat terwujud dengan baik,” pungkas Dedy dengan penuh keyakinan.

Program MBG di Sumbawa dengan demikian tidak lagi sekadar dilihat sebagai program sosial-kesehatan, melainkan sebagai sebuah investasi strategis. Di satu sisi, ia adalah investasi untuk mencetak generasi penerus yang sehat dan cerdas. Di sisi lain, ia adalah investasi untuk membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi desa, menciptakan fondasi yang kokoh bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045 yang dimulai dari bumi Sumbawa.

Editor/Pemred: Sahril Imran

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez