Kadis Kesehatan : HIV/AIDS di Sumbawa Didominasi Usia Produktif

2 menit membaca
Sahril

Sumbawa, Nuansantb.id– Kasus HIV baru di Kabupaten Sumbawa masih didominasi oleh kelompok usia produktif. Berbeda dengan tren nasional yang mulai menunjukkan peningkatan pada remaja, pola di wilayah ini tetap bertumpu pada angkatan kerja.

“Secara nasional, sekitar lima persen kasus baru ditemukan pada remaja. Di Sumbawa, dominasi masih pada usia produktif,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, S.KM., M.PH, Senin (12/01/2026).

Untuk mengantisipasi penyebaran, Dinas Kesehatan setempat secara rutin melakukan skrining minimal dua kali setahun yang menyasar dua kelompok. Pertama, populasi kunci seperti pekerja seks, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), dan kelompok dengan aktivitas berisiko tinggi. Kedua, populasi khusus meliputi ibu hamil, warga binaan di lembaga pemasyarakatan, dan tenaga medis.

Tim kesehatan juga melakukan pendekatan proaktif dengan turun langsung ke lokasi-lokasi hiburan malam untuk menjangkau pekerja yang rentan terpapar.

Namun, upaya deteksi dini ini masih menghadapi tantangan besar: stigma dan diskriminasi. Sarip mengakui banyak warga berisiko enggan memeriksakan diri, bahkan kerap menolak hasil tes ketika dinyatakan positif.

“Mitos tentang HIV masih kuat di masyarakat. Mereka takut dikucilkan, sehingga memilih untuk tidak tahu,” ujar Sarip.

Ia menegaskan kembali bahwa penularan HIV hanya terjadi melalui tiga jalur: hubungan seksual tidak aman, kontak darah langsung, dan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Sarip menekankan, HIV tidak menular melalui udara, sentuhan, atau penggunaan peralatan makan bersama, berbeda dengan penyakit seperti Tuberculosis (TB) Paru.

Di sisi lain, Sarip memberikan pesan harapan. Dengan terapi Antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi secara rutin, penularan dapat dihentikan. Setelah beberapa bulan pengobatan hingga viral load tidak terdeteksi, pasien tidak lagi dapat menularkan virus kepada pasangan seksualnya.

“Prinsip ‘Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan’ atau Undetectable = Untransmittable (U=U) berlaku. Jika ARV diminum setiap hari dan virus tidak terdeteksi, dia tidak menularkan,” tegas Sarip.

Ia memandang peningkatan temuan kasus bukan sebagai indikasi memburuknya epidemi, melainkan tanda keberhasilan program deteksi.

“Fenomena HIV itu seperti gunung es. Yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil. Semakin banyak kasus yang berhasil kita temukan, semakin cepat rantai penularan bisa kita putus,” pungkasnya, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan tanpa stigma.

Editor: Nuansantb

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS
Tez