
Sumbawa, Nuansantb.id– Hujan deras yang mengguyur sejak siang hari menyebabkan banjir di enam desa di Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, pada Sabtu (07/02/2026) sore.
Genangan air setinggi hingga satu meter menggenangi permukiman dan jalan raya, mendorong aksi tanggap darurat yang cepat dari warga bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan perangkat desa.
Anggota Relawan Tagana Sumbawa, Annisa dalam keterangannya di lokasi memaparkan kronologi kejadian, dimana hujan dengan intensitas tinggi mulai turun sekitar pukul 15.00 WIT dan berlangsung lebih dari empat jam.
Dua jam kemudian, air mulai meluap dan menggenangi jalan raya utama serta permukiman warga. Puncaknya terjadi sekitar pukul 17.30 WIT, di mana ketinggian air mencapai satu meter di beberapa titik, menyebabkan sejumlah rumah terendam. Air baru mulai surut perlahan sekitar pukul 19.00 WIT.
Adapun wilayah yang terdampak meliputi: Desa Lamenta, Desa Empang Bawa (Dusun Lagenti, Dusun Marga Makmur, Dusun Lapangan).
Kemudian Desa Empang Atas (Dusun Kamboja, Dusun Awo, Dusun Ponong). Desa Pamanto, Desa Bunga Eja dan Desa Jotang (Dusun Tero).
Dampak dan Upaya Penanganan Darurat
Selain itu, banjir menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan ringan pada bagian dinding dan lantai akibat terendam. Infrastruktur berupa saluran air di pinggir jalan raya juga dilaporkan tersumbat dan tidak berfungsi optimal.
Menghadapi situasi tersebut, aksi penanganan darurat segera dijalankan. Anisa menjelaskan upaya yang dilakukan. “Begitu air mulai naik, kami bersama perangkat desa dan warga segera bergerak mengantisipasi,” ujarnya. “Kami menggunakan karung pasir untuk menghalau air agar tidak masuk lebih dalam ke rumah-rumah, sambil membantu warga mengevakuasi barang elektronik dan barang berharga lainnya ke tempat yang lebih aman.”
Anisa juga mengidentifikasi beberapa faktor penyebab banjir ini. “Curah hujan yang tinggi dan lama jelas melebihi kapasitas saluran dan sungai yang ada,” jelasnya. “Namun, kami juga melihat ada penyumbatan di saluran air pinggir jalan. Selain itu, pola pembangunan permukiman yang kurang memperhatikan sistem drainase yang baik turut memperparah genangan.”
Kejadian ini menyisakan pekerjaan rumah bagi berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah. Meskipun air telah surut, proses pembersihan lumpur dan sisa genangan masih berlangsung.
Warga dan Tagana terus berkoordinasi memantau kondisi, terutama dengan prakiraan cuaca yang masih belum menentu. Upaya jangka panjang untuk menata ulang sistem drainase dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana menjadi hal yang mendesak untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar