
SUMBAWA, Nuansantb.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa terus mengakselerasi peningkatan mutu pendidikan melalui program unggulan “Gerakan Semesta Menuju Sekolah Unggul” (GSU).
Langkah terbaru, Dikbud menggandeng Dewan Kesenian Daerah (DKS) Kabupaten Sumbawa untuk menghidupkan seni dan budaya di lingkungan sekolah. Sebuah pertemuan strategis digelar pada Kamis (07/05) antara jajaran Dikbud dan pengurus DKS yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting bagi kemajuan seni pendidikan di daerah ini.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dikbud Sumbawa, Junaidi, S.Pd., M.Pd., secara tegas menyatakan bahwa keterlibatan para seniman di sekolah bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari upaya pembentukan karakter anak didik.
“Kami mengajak para seniman masuk ke sekolah agar anak-anak bisa belajar langsung dari para ahli seni dan budaya. Ini untuk membentuk karakter yang baik, melatih empati, dan menumbuhkan sopan santun yang tinggi,” ujar Junaidi kepada wartawan, Kamis (07/05/2026).
Menurutnya, seni memiliki kekuatan luar biasa dalam menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Dengan bimbingan yang tepat, siswa tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang lebih baik.
FLS3N 2026: Dikbud Serahkan Penuh ke Dewan Kesenian
Salah satu hasil konkret pertemuan tersebut adalah kesepakatan kerja sama penyelenggaraan Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tahun 2026. Untuk pertama kalinya, Dinas Dikbud secara resmi menunjuk Dewan Kesenian sebagai penyelenggara lomba seni bagi jenjang SD dan SMP di Kabupaten Sumbawa.
“Kami sepakat bekerja sama agar pelaksanaan FLS3N tahun ini lebih berkualitas dengan melibatkan langsung para ahli seni dari DKS sebagai penyelenggara. Mereka yang lebih memahami parameter penilaian dan standar artistik yang baik,” jelas Junaidi.
Langkah ini dinilai strategis karena selama ini lomba seni sering kali dinilai oleh pihak yang kurang memiliki latar belakang seni murni. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan bibit-bibit seniman muda Sumbawa dapat terdeteksi lebih dini dan terasah kemampuannya.
Program “Sabtu Berkarya”: Seniman Langsung Mengajar di Sekolah
Tak hanya FLS3N, Dikbud dan DKS juga menyepakati program “Sabtu Berkarya”. Dalam program ini, para seniman binaan Dewan Kesenian akan turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan di bidang tari, musik, dan seni rupa.
“Kami ingin murid-murid bisa menemukan bakat mereka dengan bimbingan yang benar. Melalui seni, kita juga memastikan hak anak untuk berkarya terpenuhi. Anak-anak diajak lebih peduli sesama dan memiliki tata krama yang tinggi,” tambah Junaidi dengan nada optimis.
Program ini rencananya akan dimulai pada awal semester genap tahun ajaran 2025/2026, dengan menyasar sejumlah sekolah percontohan terlebih dahulu sebelum diperluas ke seluruh kecamatan di Kabupaten Sumbawa.
Ketua DKS: Seni adalah Jalan Menjaga Budaya Asli Sumbawa
Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Sumbawa, Muhammad Irfan, S.P., M.M., menyambut baik ajakan kolaborasi ini. Dalam pertemuan itu, ia menyatakan kesiapan penuh seluruh jajaran DKS untuk mengemban amanah sebagai penyelenggara FLS3N sekaligus mengirimkan pelatih seni ke sekolah-sekolah.
“Kami siap menyukseskan FLS3N dan mengirimkan pelatih ke sekolah. Langkah ini sangat penting agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dan budaya asli Sumbawa tidak hilang ditelan zaman,” tegas Muhammad Irfan.
Lebih lanjut, pria yang juga aktif sebagai pegiat seni dan budaya ini menekankan bahwa anak-anak Sumbawa perlu diperkenalkan kembali dengan akar budayanya. Tari-tarian tradisional, musik khas daerah, hingga ragam seni rupa lokal harus terus diwariskan.
“Jangan sampai generasi kita lebih tahu tari K-Pop daripada tari Saman atau tari Batong Tere. Kami di DKS akan memastikan para pelatih yang dikirim benar-benar kompeten dan mencintai budaya lokal,” imbuhnya.
Sinergi Jangka Panjang untuk Pendidikan Karakter
Kerja sama ini tidak bersifat musiman. Kedua pihak sepakat untuk membentuk tim teknis bersama yang akan menyusun kurikulum pelatihan seni yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal. Selain itu, evaluasi berkala akan dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk mengukur efektivitas program.
Dengan hadirnya seniman di sekolah, Dikbud Sumbawa optimis visi “Sekolah Unggul” tidak hanya diukur dari nilai akademik semata, tetapi juga dari kecerdasan emosional, kreativitas, dan karakter luhur siswa. Gerakan Semesta Menuju Sekolah Unggul pun semakin nyata, tidak hanya di atas kertas, tetapi dalam setiap gerak tari, alunan musik, dan goresan seni rupa yang diajarkan para seniman kepada generasi penerus Sumbawa.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar