
Sumbawa, Nuansantb.id — Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, berubah menjadi pusat perhatian pada Selasa malam, 16 Juni 2026. Ratusan warga dan peserta dari 23 kecamatan se-Kabupaten Sumbawa memadati lokasi Festival Malala, agenda budaya tahunan dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Acara yang dibuka secara resmi oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., ini bukan sekadar pergelaran budaya. Di balik kepulan asap dan desisan minyak mendidih dari wajan-wajan tradisional, tersimpan warisan leluhur yang telah bertahan selama ribuan tahun.
Malala: Lebih dari Sekadar Minyak Tradisional
Festival Malala merupakan praktik pembuatan minyak tradisional khas Sumbawa yang diracik dari berbagai bahan alami—akar pohon, rempah-rempah, daun-daunan, kulit kayu, hingga madu dan santan kelapa. Prosesi ini hanya bisa dijumpai pada bulan Muharram dan dipimpin oleh seorang sandro atau tabib yang memiliki pengetahuan turun-temurun.
Namun, makna Malala jauh melampaui sekadar ramuan obat. Tradisi ini mengandung nilai spiritual, hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bupati Jarot: “Jadikan Hijrah sebagai Momentum Perubahan”
Dalam sambutannya, Bupati H. Jarot mengapresiasi masyarakat Kecamatan Moyo Hilir selaku tuan rumah serta seluruh kecamatan yang berpartisipasi menjaga keberlangsungan tradisi ini.
“Festival Malala adalah kebanggaan masyarakat Sumbawa yang harus terus kita lestarikan. Namun di saat yang sama, kita juga tidak boleh melupakan makna utama dari datangnya 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Sebelum membuka festival di Desa Poto, Bupati terlebih dahulu menghadiri peringatan Tahun Baru Islam di Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa Besar. Di sana, ia menegaskan bahwa makna hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga sebagai keberanian untuk melakukan perubahan.
“Hijrah adalah keberanian untuk berubah. Berani meninggalkan kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik, mengubah keputusasaan menjadi harapan, dan perbedaan menjadi persaudaraan,” tegasnya.
Momen Bersejarah: Bupati Celupkan Tangan ke Minyak Mendidih
Salah satu momen paling menarik terjadi ketika Bupati Jarot diajak oleh perwakilan Kecamatan Tarano, Kamaruddin Nanang, untuk mencelupkan tangannya ke dalam wajan berisi minyak yang sedang mendidih.
Awalnya, orang nomor satu di Kabupaten Sumbawa itu tampak ragu dan sempat menarik kembali tangannya. Namun, Kamaruddin meyakinkan bahwa melalui ritual dan mantra yang menjadi bagian dari tradisi Malala, minyak mendidih tersebut tidak akan terasa panas.
Dengan disaksikan ratusan warga, Bupati akhirnya memberanikan diri. Tak disangka, ia tampak terkejut sekaligus heran karena tidak merasakan panas seperti yang dibayangkan. Aksi tersebut sontak mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari masyarakat yang hadir.
Filosofi di Balik Nama-nama Unik Minyak Malala
Setiap tahunnya, Festival Malala menghadirkan berbagai nama unik pada minyak yang diproduksi, seperti Linggis Kali Pitu, Toar Basa, Salopas Urat, hingga Linir Subuh. Nama-nama tersebut memiliki filosofi dan makna tersendiri yang mencerminkan kekayaan nilai budaya serta kearifan lokal masyarakat Sumbawa.
Minyak tradisional ini dipercaya memiliki berbagai manfaat, mulai dari mengobati luka, keseleo, nyeri pinggang, hingga meningkatkan vitalitas dan menyegarkan tubuh.
Harapan untuk Generasi Muda
Bupati H. Jarot berharap para sandro dan pelaku tradisi Malala dapat terus mewariskan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki kepada generasi muda. “Warisan budaya Malala harus tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi,” pesannya.
Festival yang dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori, Sekretaris Daerah, Dr. H. Budi Prasetiyo, pimpinan DPRD, dan para kepala OPD ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam melestarikan kearifan lokal sekaligus memaknai semangat hijrah di Tahun Baru Islam 1448 H.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar