
Sumbawa, Nuansantb.id — Kabupaten Sumbawa kembali menjadi pusat perhatian pemerintah pusat. Sebanyak tujuh Wakil Menteri Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Strategis SAMOTA (Saleh–Moyo–Tambora) pada Jumat (24/07/2026), disambut langsung oleh Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori didampingi Asisten II Setda Sumbawa, Lalu Suharmaji, ST.
Kunjungan yang dihadiri oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Wakil Menteri Pariwisata, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Wakil Menteri HAM, Wakil Menteri UMKM, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini diawali dengan penyambutan di Istana Dalam Loka—ikon budaya dan kebanggaan masyarakat Sumbawa. Di lokasi bersejarah tersebut, para pejabat pusat diperkenalkan dengan sejarah Kesultanan Sumbawa serta nilai-nilai budaya yang masih lestari hingga kini. Usai menikmati kekayaan budaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kawasan SAMOTA yang diproyeksikan sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.
Dalam pemaparan dihadapan para Wakil Menteri, Lalu Suharmaji selaku Asisten II Setda Sumbawa menyampaikan capaian investasi di Kawasan SAMOTA selama periode 2020–2026. Ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan dilaksanakan dengan mengedepankan empat prinsip utama: berkelanjutan melalui upaya menjaga kelestarian alam dan budaya, berdampak ekonomi dengan mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja, kolaboratif melalui sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta berdaya saing untuk memperkuat posisi SAMOTA sebagai destinasi unggulan.
Selama kurun waktu tujuh tahun, pengembangan investasi di Kawasan SAMOTA telah menjangkau 10 kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan rekapitulasi yang dipaparkan, sektor pertanian dan perkebunan menjadi kontributor terbesar dengan nilai sekitar Rp434 miliar atau 44,71 persen dari total komposisi investasi kawasan. Capaian ini menegaskan bahwa sektor agraris masih menjadi tulang punggung perekonomian di kawasan SAMOTA, sejalan dengan potensi besar Sumbawa sebagai lumbung pangan nasional, terutama untuk komoditas jagung.
Komposisi investasi di Kawasan SAMOTA secara lengkap menunjukkan bahwa sektor perikanan berkontribusi sebesar 15,68 persen, pariwisata 12,75 persen, industri 9,88 persen, dan sektor lainnya 17 persen. Komposisi ini mencerminkan bahwa pembangunan kawasan tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata—yang selama ini menjadi ikon SAMOTA melalui destinasi seperti Pulau Moyo, Teluk Saleh, dan Gunung Tambora—tetapi juga didukung oleh sektor produktif lainnya sebagai fondasi ekonomi kawasan yang berkelanjutan.
Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa ke depan memfokuskan arah investasi pada sepuluh sektor prioritas, meliputi perikanan, budidaya laut, pertanian dan perkebunan, industri, agrowisata, ekowisata, maritim dan pelabuhan, pariwisata premium, energi dan bioindustri, serta perdagangan dan jasa pendukung. Seluruh strategi tersebut ditopang oleh lima pilar utama pembangunan, yakni Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Pelestarian Lingkungan, Pelestarian Budaya, Kesejahteraan Masyarakat, dan Kawasan Tangguh Bencana, dengan semangat “SAMOTA Maju, Lestari, dan Sejahtera”.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa optimistis investasi di SAMOTA tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan melalui konsep pembangunan berkelanjutan. Kunjungan kerja sejumlah Wakil Menteri RI ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTB, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam mempercepat pembangunan Kawasan Strategis SAMOTA sebagai destinasi unggulan nasional, pusat investasi berdaya saing internasional, sekaligus lokomotif baru pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumbawa.
Editor: Nuansantb

Tidak ada komentar